Social Ghosting, Luka Sunyi dalam Pertemanan
- 13 Sep 2025 11:07 WIB
- Mataram
KBRN. Mataram: Pernahkah kamu merasa tiba-tiba ditinggalkan teman dekat tanpa alasan? Obrolan yang dulu ramai mendadak sepi, ajakan hangout tak terbalas, hingga akun media sosialnya hilang dari daftar pertemanan. Fenomena ini dikenal dengan istilah social ghosting.
Berbeda dengan putus hubungan biasa, social ghosting hadir tanpa penjelasan, tanpa perpisahan. Keheningan yang muncul justru meninggalkan ruang kosong, membuat yang ditinggalkan bertanya-tanya apa kesalahannya.
Studi yang dimuat di ScienceDirect menyebut, ghosting dalam pertemanan justru bisa lebih menyakitkan dibanding ghosting romantis. Sebab, teman sering dianggap sebagai tempat pulang. Ketika mereka menghilang tiba-tiba, rasa kehilangan itu bisa mengganggu harga diri.
Fakta lain datang dari survei The Thriving Center of Psychology: 50% responden pernah di-ghosting oleh sahabatnya sendiri, dan hampir separuhnya juga pernah melakukan hal serupa. Artinya, fenomena ini bukan hanya dialami sepihak, tapi sudah menjadi pola sosial yang berulang.
Alasannya beragam—mulai dari menghindari konflik, rasa jenuh, hingga kelelahan emosional. Namun, langkah menghilang tanpa kabar justru menyisakan luka lebih dalam, baik bagi korban maupun pelaku. Keheningan sering kali terasa lebih bising daripada pertengkaran.
Padahal, solusi sederhana bisa menjaga hubungan tetap sehat: berani bicara jujur meski singkat. Kalimat sederhana seperti “Aku butuh waktu untuk diriku sendiri” lebih menenangkan dibanding diam tanpa kabar. Kejujuran kecil bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap ikatan pertemanan.
Era digital memang memudahkan orang untuk menghilang begitu saja. Namun, ruang yang sama juga bisa kita gunakan untuk lebih peka, lebih berani, dan lebih menghargai perasaan satu sama lain. Pertemanan yang dirawat dengan komunikasi terbuka akan lebih kokoh dibanding yang bertahan lewat notifikasi singkat.