Apa Itu Culture Shock? Berikut Penjelasanya!
- 01 Jul 2025 00:40 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Culture shock atau gegar budaya, ternyata tidak hanya terjadi saat seseorang berpindah ke negara atau lingkungan asing. Di kalangan mahasiswa baru, khususnya yang berasal dari luar daerah atau dari latar belakang sosial yang berbeda, fenomena ini kerap terjadi saat mereka memasuki dunia kampus. Menghadapi perbedaan cara belajar, ritme hidup, hingga tekanan akademik dan sosial, tidak sedikit dari mereka yang merasa terasing, tertekan, hingga kehilangan arah.
Berangkat dari fenomena inilah, Brilianul Amry, pemuda lulusan Jurusan Bimbingan Konseling UIN Mataram tahun 2024, mendirikan komunitas “Bawah Atap Berlian”. Komunitas ini menjadi ruang aman bagi mahasiswa yang tengah mengalami culture shock—sebuah kondisi psikologis yang muncul akibat adaptasi terhadap lingkungan baru yang sangat berbeda dengan lingkungan asal.
“Banyak mahasiswa baru mengalami perubahan emosional yang cukup drastis. Mereka merasa kesepian, bingung, bahkan tertekan. Diskusi kami mengungkap keluhan-keluhan mulai dari masalah keluarga, pergaulan, hingga krisis identitas saat bertransisi dari siswa menjadi mahasiswa,” ungkap Brilianul.
Menariknya, komunitas ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa dari UIN Mataram, tetapi juga dari berbagai universitas dan sekolah tinggi di Kota Mataram. Mereka rutin bertemu seminggu sekali dalam sesi diskusi terbuka. Para dosen dan alumni dari jurusan Bimbingan Konseling juga turut hadir sebagai konselor pendamping.
“Peran para konselor ini sangat penting. Mereka memberikan pencerahan yang membantu mahasiswa mengenali dan mengelola emosi, membangun kembali rasa percaya diri, dan menemukan arah hidup,” tambah Brilianul.
Namun komunitas “Bawah Atap Berlian” tak hanya membatasi kegiatan pada diskusi. Salah satu bentuk terapi kreatif yang dilakukan adalah pentas seni drama. Menariknya, para aktornya adalah mahasiswa yang tengah mengalami culture shock. Mereka memainkan peran dalam cerita yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi mereka.
“Ketika mereka tampil di panggung, ekspresi dan penghayatannya sangat kuat. Karena yang mereka mainkan adalah cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Dari sana, banyak yang mulai berdamai dengan dirinya dan menemukan kekuatan untuk melangkah maju,” jelas Brilianul.
Dengan pendekatan yang hangat, inklusif, dan penuh empati, komunitas ini menjadi bukti bahwa dukungan emosional dan ruang ekspresi sangat penting bagi mahasiswa, khususnya di fase awal perkuliahan.
Culture shock merupakan kondisi stres atau kebingungan psikologis yang dialami seseorang ketika memasuki lingkungan baru yang sangat berbeda dengan lingkungan asalnya. Gejalanya bisa berupa perasaan tidak nyaman, cemas, rindu rumah, sulit beradaptasi, hingga kehilangan identitas diri. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan prestasi akademik seseorang.
Dengan visi membangun mental sehat dan karakter kuat, komunitas “Bawah Atap Berlian” membuka harapan baru bagi para mahasiswa untuk bertumbuh dalam lingkungan yang suportif dan inspiratif. (Diza)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....