Gajah di Pelupuk Mata Tidak Nampak, Semut di Seberang Lautan Nampak

  • 16 Des 2024 08:08 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Pepatah "Gajah di pelupuk mata tidak nampak, semut di seberang lautan nampak" adalah sebuah ungkapan bijak yang mengandung makna dalam mengenai kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan atau menyadari hal-hal kecil yang jauh atau tidak langsung berhubungan dengan dirinya, sementara hal-hal besar atau yang dekat dengan dirinya sendiri seringkali diabaikan.

Menurut seorang Tokoh Agama Dusun Mambalan, Tuhur, saat ditanya pendapatnya mengenai pepatah ini mengungkapakan bahwa hal ini menggambarkan situasi di mana seseorang bisa dengan mudah melihat hal kecil seperti semut di seberang lautan, namun tidak bisa melihat hal yang jauh lebih besar atau lebih nyata yang ada di hadapannya, seperti gajah di pelupuk mata. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pepatah ini mengingatkan kita agar tidak terlalu sibuk mengkritik atau menilai orang lain atau situasi lain tanpa melihat dengan jujur kondisi atau masalah yang ada pada diri kita sendiri.

Pepatah ini mengajak kita untuk lebih introspektif dan menyadari bahwa sering kali kita terlalu fokus pada kesalahan orang lain, bahkan yang jauh atau tidak relevan dengan kehidupan kita. Padahal, ada banyak kekurangan atau masalah besar dalam diri kita sendiri yang perlu diperbaiki terlebih dahulu. Sebagai contoh, seseorang yang mudah mengkritik kebiasaan buruk orang lain sering kali tidak menyadari kebiasaan buruknya sendiri yang lebih besar atau lebih merugikan.

Dalam kehidupan sosial, kita cenderung lebih mudah menilai atau menghakimi orang lain daripada memperhatikan masalah pribadi kita. Pepatah ini mengingatkan kita agar lebih bijaksana dalam memberikan penilaian terhadap orang lain dan tidak mengabaikan kekurangan yang ada dalam diri kita. Sebuah cara pandang yang adil adalah dengan melihat diri sendiri terlebih dahulu sebelum menilai orang lain.

Gajah di pelupuk mata mewakili masalah atau tantangan besar yang ada dalam kehidupan kita. Semut di seberang lautan menggambarkan hal-hal kecil yang sering kali kita anggap penting, namun sebenarnya bukan prioritas utama. Menggunakan pepatah ini, kita diingatkan untuk lebih bijak dalam memilih masalah mana yang perlu mendapat perhatian utama. Jangan sampai kita terlalu larut dalam masalah kecil, sementara masalah besar yang lebih signifikan terabaikan.

Seorang ayah mungkin sibuk mengkritik kebiasaan buruk anak-anaknya atau pasangan hidupnya, namun dia lupa untuk memeriksa sikap dan tindakannya sendiri. Misalnya, ayah tersebut tidak memperhatikan betapa sibuknya dia bekerja hingga mengabaikan waktu bersama keluarga. Dalam hal ini, sang ayah lebih fokus pada hal-hal kecil yang bisa diperbaiki pada orang lain daripada memeriksa bagaimana dirinya mempengaruhi kehidupan keluarga.

Seorang pekerja mungkin sering mengkritik kinerja rekan kerja yang dianggap kurang baik, tetapi tidak sadar bahwa dia sendiri memiliki banyak kelemahan dalam pekerjaannya, seperti keterlambatan atau kurangnya komunikasi dengan tim. Fokus pada kritik terhadap orang lain tanpa merenung pada kekurangan diri sendiri bisa menghambat perkembangan profesional.

Pepatah "Gajah di pelupuk mata tidak nampak, semut di seberang lautan nampak" mengajarkan kita untuk memiliki kesadaran diri dan kepekaan terhadap masalah yang ada dalam diri kita, bukan hanya terlalu fokus pada hal-hal kecil yang ada di luar diri kita. Dengan mempraktikkan pepatah ini, kita dapat menjadi lebih bijaksana dalam menilai diri sendiri dan orang lain, serta mampu mengutamakan perbaikan dalam hal-hal yang lebih penting dan relevan dalam hidup kita. (RRI/Lalu Sajadi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....