Gen Z dan Gen Alpha ,Generasi Emas atau Cemas?
- 25 Okt 2024 04:56 WIB
- Mataram
KBRN Mataram, Berdasarkan data Sensus Data Tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS), Generasi Z di Indonesia, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, mencapai sekitar 74,93 juta jiwa, atau sekitar 27,94% dari total populasi Indonesia yang berjumlah 270,2 juta jiwa. Generasi ini merupakan generasi yang mendominasi penduduk Indonesia, disusul oleh generasi milenial yang mencakup sekitar 25,87% dari populasi.
Kehadiran generasi Z yang begitu besar menunjukkan potensi besar dalam segi ekonomi, sosial, dan budaya, karena mereka merupakan kelompok usia produktif yang berkontribusi pada perkembangan bangsa di masa depan,Peran dan pengaruh generasi ini sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perubahan sosial, ekonomi, dan budaya, mengingat mereka berada di usia muda dan produktif,lahir dan tumbuh di Era Digital Membuat generasi Z dan Alpha lebih kreatif dan berkembang ditengah perkembangan zaman.
Menurut Dr.H. Putu Diatmika ,M . Biamed. Sp,KJ.MH ,seorang Psikiater dari RSJ Mutiara Sukma,mengatakan saat mengisi acara Berugak Kita ,Kamis (24/10) ,mengatakan bahwa Generasi Z dan Alpha sering disebut sebagai generasi yang memiliki potensi besar,pintar,kreatif,kritis dan cerdas namun sering dikaitkan dengan stigma sosial yang mengatakan Gen Z kurang memiliki etika dalam bersosialisasi terutama pada dunia kerja yang mengharuskan para gen Z berbaur dengan Gen X dan Y yang sering terjadi gesekan terkait pekerjaan , Gen Z dinilai tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan cenderung cuek dan memiliki mental yang kurang tangguh serta lebih emosional,meskipun pada kenyataanya tidak semua generasi Z seperti itu.
Kedua generasi ini tumbuh di era teknologi yang sangat maju, dengan akses tak terbatas ke informasi dan pendidikan. Mereka dianggap sebagai generasi yang inovatif, adaptif, dan berpotensi besar untuk memimpin kemajuan di berbagai sektor, termasuk ekonomi digital dan kreativitas. Potensi ini menjadikan mereka "generasi emas" yang akan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menciptakan perubahan positif di dunia.Di sisi lain, tantangan global seperti perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan dampak teknologi seperti kecanduan media sosial dan informasi yang berlebihan memicu kecemasan di kalangan Generasi Z dan Alpha. Tekanan untuk selalu sukses, ditambah dengan tantangan kesehatan mental, membuat mereka juga disebut sebagai "generasi cemas." Banyak yang khawatir akan masa depan mereka di dunia yang semakin rumit dan tidak stabil.
Menghadapi Generasi Z memerlukan pendekatan khusus, terutama karena mereka tumbuh di era digital dan menghadapi tantangan unik. Berikut beberapa tips dari psikiater tentang cara menghadapi Gen Z:
Membangun Komunikasi yang Terbuka:
Psikiater menekankan pentingnya menciptakan lingkungan di mana Gen Z merasa nyaman untuk berbicara. Mereka cenderung lebih ekspresif secara online, tetapi mungkin lebih tertutup dalam interaksi langsung. Membangun kepercayaan dan komunikasi yang jujur sangat penting.Pahami Tekanan Sosial dan Teknologi:
Gen Z sangat terpapar media sosial, yang sering menjadi sumber tekanan. Psikiater menyarankan untuk membantu mereka memahami batasan penggunaan teknologi dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Mendiskusikan penggunaan teknologi secara sehat, seperti menetapkan waktu layar yang terbatas dan mendorong aktivitas fisik, bisa sangat membantu.Dukung Kesehatan Mental Mereka:
Kecemasan dan depresi lebih umum di kalangan Gen Z, sebagian besar karena ekspektasi sosial yang tinggi dan ketidakpastian global. Psikiater menyarankan orang tua dan guru untuk memberikan dukungan emosional yang konsisten, serta tidak ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan. Terbuka terhadap diskusi tentang perasaan mereka adalah kunci untuk mengurangi stigma seputar masalah kesehatan mental.Hargai Keinginan Mereka untuk Perubahan:
Gen Z cenderung vokal tentang isu-isu sosial, seperti perubahan iklim dan kesetaraan. Mereka menginginkan dunia yang lebih baik dan lebih adil. Psikiater menyarankan agar orang dewasa menghormati pandangan ini, memberikan ruang bagi mereka untuk terlibat, dan membantu mereka menyalurkan rasa keprihatinan itu secara positif.Berikan Ruang untuk Kemandirian:
Generasi Z sangat menghargai kebebasan dan kemandirian. Orang tua dan pengajar disarankan untuk memberi mereka kesempatan mengambil keputusan sendiri sambil tetap memberikan bimbingan. Ini membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.(Desak Made Dian)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....