Menu MBG Dinilai Belum Ideal, Sekolah Dorong Standar Gizi Lebih Terukur

  • 27 Feb 2026 08:10 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, evaluasi datang dari lingkungan pendidikan kejuruan di daerah, tepatnya dari SMKN 1 Gerung, Nusa Tenggara Barat. Pihak sekolah menilai program tersebut sudah berjalan, namun masih memerlukan penyempurnaan serius agar benar-benar memenuhi standar kebutuhan gizi siswa secara nasional.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 1 Gerung, Hasni Handini Tsurraya, STT.Par., M.Pd, menegaskan secara umum menu MBG telah dibagikan kepada seluruh siswa tanpa terkecuali. Namun, dari sisi kecukupan gizi, ia menilai masih ada catatan penting yang perlu menjadi perhatian bersama.

“Yang biasa diberikan itu kan roti, lalu susu sekitar 125 mililiter, dan buah. Buahnya sehari satu,” ujarnya saat ditemui RRI di lingkungan sekolahnya, Kamis, 26 Februari 2026.

Menurutnya, karena sistem distribusi dilakukan secara dirapel setiap tiga hari, maka siswa menerima tiga buah sekaligus. Meski menu berganti setiap hari, ia mempertanyakan apakah komposisi tersebut sudah benar-benar memenuhi kebutuhan gizi harian siswa.

“Kalau kita lihat dari nominalnya, sepertinya masih kurang, apalagi ini dirapelnya tiga hari,” katanya.

Hasni menekankan pentingnya transparansi berbasis data ilmiah dalam program berskala nasional tersebut. Ia menilai seharusnya ada perhitungan jelas dari tenaga ahli gizi yang dilampirkan secara terbuka.

“Alangkah baiknya kalau dilampirkan, sebenarnya kebutuhan gizi per hari itu berapa. Karbohidratnya berapa, proteinnya bentuknya apa, itu harus jelas dan disesuaikan,” ucapnya.

Ia pun secara tegas menyebut bahwa jika mengacu pada kebutuhan ideal siswa SMK yang aktivitasnya cukup tinggi, porsi gizi saat ini masih perlu ditingkatkan. “Kalau kurang, ya harus ditambah,” tambahnya.

Selama bulan Ramadan, pola pembagian MBG di SMKN 1 Gerung juga mengalami penyesuaian. Makanan basah seperti nasi ditiadakan dan diganti dengan makanan kering yang dibagikan menjelang siswa pulang sekolah.

“Selama Ramadan ini dibagikan di akhir jam sebelum mereka pulang, karena memang makannya kering-kering, nasi tidak ada,” jelasnya.

Meski demikian, program MBG di sekolah tersebut menjangkau seluruh peserta didik tanpa pengecualian. “Semua siswa kami dapat. Jumlahnya ada 952 siswa,” katanya.

Menariknya, Hasni memastikan makanan yang dibagikan tidak terbuang sia-sia. Ia mengakui karakter siswa SMK yang cenderung memilih makanan mengenyangkan, namun pihak sekolah memiliki mekanisme agar tidak terjadi pemborosan.

“Kalau kebuang sih enggak. Kalau masih ada sisa, kami bagikan lagi. Kadang siswa ada yang ambil lebih dari satu asal masih ada dan memang berhak, biar enggak mubazir,” ujarnya.

Pihak sekolah berharap ke depan program MBG tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar berbasis standar gizi nasional yang terukur, transparan, dan disesuaikan dengan kebutuhan riil siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....