Cerita Mudik ke Bima Hangat Tradisi dan Kuliner

  • 26 Mar 2026 19:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga perjalanan rasa yang penuh cerita, rindu, dan tradisi. Dalam obrolan hangat program “Sore Ceria” Pro 2 RRI Mataram, Aminah, M.Pd, seorang tenaga pendidik asal Bima yang membagikan pengalaman mudiknya sarat makna, mulai dari perjalanan panjang, tradisi khas, hingga kekayaan kuliner yang selalu dirindukan setiap momen Idul Fitri.

Aminah menuturkan bahwa ia berangkat mudik sekitar satu minggu sebelum Lebaran, memanfaatkan program mudik gratis dari Pemerintah Provinsi NTB bagi mahasiswa yang ingin kembali ke Pulau Sumbawa. Perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 12 jam, saat musim mudik bisa memakan waktu hingga 17 jam. Meski melelahkan, perjalanan panjang itu terasa terbayar ketika tiba di kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.

Di Bima, suasana menyambut Lebaran begitu kental dengan nilai kebersamaan. Tradisi seperti ziarah kubur menjadi momen refleksi dan doa untuk leluhur. Setelah hari raya, masyarakat juga menggelar halal bihalal, tidak hanya dengan keluarga, tetapi juga dengan lingkungan sekitar untuk mempererat silaturahmi yang telah terjalin lama.

Tak lengkap rasanya membahas Lebaran tanpa kuliner khas. Aminah memperkenalkan berbagai hidangan tradisional Bima yang menggugah selera. Ada uta palumara, hidangan ikan berkuah segar dari kakap atau tongkol. Uta majupuru, olahan daging rusa hutan yang berbumbu khas mirip rendang, bahkan bisa diolah menjadi sate meski kini tergolong langka. Selain itu, ada uta sepi tumis, yaitu ikan kecil yang dimasak sederhana namun kaya rasa.

Keunikan kuliner Bima juga terlihat dari ragam sambalnya. Sambal bawang menjadi pelengkap umum, sementara doco po’o berbahan dasar mangga memberikan sensasi segar. Ada pula sambal sia saha sungga yang terbuat dari tiga jenis jeruk, serta oi mangge, kuah asam dengan perpaduan teri kering, terong, dan cabai yang khas.

Tak hanya makanan berat, Bima juga memiliki camilan dan oleh-oleh khas seperti mangge mada, kue bunga, hingga olahan ikan seperti bandeng presto. Semua ini menjadi bagian dari pengalaman mudik yang tak terlupakan.

Selain tradisi dan kuliner, Bima juga menawarkan destinasi wisata menarik untuk liburan Lebaran. Pantai Lawata yang berada di pusat kota menjadi pilihan favorit keluarga. Ada juga Pantai Kolo dan Pantai Pink dengan pesona alam yang memikat, hingga Pantai Ular yang unik dan menarik untuk dijelajahi.

Melalui cerita Aminah, tergambar jelas bahwa mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga tentang merajut kembali kenangan, tradisi, dan identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....