Tradisi Ziarah Makam jelang Ramadhan di Manokwari
- 19 Feb 2026 20:31 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari - Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi, suasana di Pekuburan Islam Pasir Putih, Manokwari, tampak berbeda dari hari biasanya. Sejumlah warga silih berganti datang, membawa bunga tabur dan air, menundukkan kepala dalam doa di pusara orang-orang tercinta.
Bagi umat Islam, ziarah makam memang bukan sebuah kewajiban. Namun tradisi ini telah mengakar dan menjadi bagian dari perjalanan spiritual menyambut bulan penuh berkah.
Teguh, salah seorang warga yang ditemui saat berziarah ke makam orang tuanya, mengatakan tradisi ini selalu ia lakukan menjelang puasa.
“Ziarah ini bukan keharusan, tetapi sudah menjadi kebiasaan keluarga kami. Selain mendoakan orang tua, ini juga menjadi momen silaturahmi dengan keluarga besar,” ujarnya.
Menurutnya, momentum menjelang Ramadhan menghadirkan perasaan haru dan refleksi diri. Ia merasa ziarah menjadi pengingat akan kehidupan dan kematian, sekaligus sarana memperbaiki diri sebelum memasuki bulan suci.
Tradisi ziarah ini juga membawa berkah tersendiri bagi warga yang tinggal di sekitar area pemakaman. Jois Mayor, penjual bunga tabur dan air di kawasan tersebut, mengaku setiap menjelang Ramadhan jumlah peziarah meningkat.
“Selain jual air dan bunga tabur, saya dan suami juga membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di makam supaya keluarga yang datang tidak terlalu berat membersihkannya lagi,” tuturnya.
Jois menjual bunga tabur dengan harga berkisar lima hingga sepuluh ribu rupiah per kantong plastik, tergantung ukuran. Ia mengaku sengaja membantu membersihkan area makam sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, khususnya umat Muslim yang hendak berziarah.
Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Jami Merdeka Manokwari, Ustadz H. Mohammad Jamil Manilet, menjelaskan bahwa ziarah makam sejatinya tidak harus menunggu bulan Ramadhan.
“Ziarah bisa dilakukan kapan saja. Namun dalam tradisi yang diwariskan para ulama, khususnya pada bulan Sya’ban, banyak umat Islam yang berziarah karena dikaitkan dengan kebiasaan para pendahulu,” jelasnya.
Ia menambahkan, seiring waktu terjadi pembauran tradisi di berbagai daerah, termasuk di Manokwari. Praktik ziarah menjelang Ramadhan hampir serupa dengan yang dilakukan masyarakat di Sulawesi, Maluku, maupun Papua.
“Intinya adalah mendoakan keluarga, orang tua, dan sanak saudara yang telah meninggal dunia, sekaligus membersihkan makam sebagai bentuk penghormatan,” pungkasnya.
Di tengah hembusan angin laut Pasir Putih dan hamparan nisan yang berdiri tenang, tradisi ziarah makam menjadi jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada. Sebuah pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperkuat iman, mempererat silaturahmi, dan menata hati menuju kebaikan.