Dari Kampung Taroy Wujudkan Mimpi ke Kilang LNG
- 22 Agt 2025 13:33 WIB
- Manokwari
KBRN, Bintuni: Di tengah riuhnya geliat industri di Teluk Bintuni, nama Sholeh menjadi salah satu cerita inspiratif dari generasi muda Suku Sebyar. Lahir dan besar di Kampung Taroy, Sholeh adalah contoh nyata bahwa semangat, tekad, dan kesempatan bisa mengubah nasib seseorang.
Dulu, ia hanya seorang pemuda kampung yang belum mengenal dunia industri. Namun semua berubah ketika ia memutuskan untuk mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM), program yang digagas untuk membekali anak-anak lokal dengan keterampilan teknis dan karakter profesional.

Soleh Nabi Ketika Melalukan Proses Pengelasan Pada Saat Pelatihan di P2TIM Teluk Bintuni (Foto: P2TIM)
Masuk sebagai peserta angkatan ke-7 jurusan Electrical pada tahun 2021, Sholeh mengaku pelatihan di P2TIM adalah titik balik hidupnya.
“Saya sangat senang saat pertama ikut pelatihan. Di situ saya baru sadar banyak hal penting yang belum saya tahu. Mulai dari teknik listrik, aturan kerja, sampai disiplin dan tanggung jawab,” kenangnya.
Pelatihan di P2TIM tak hanya fokus pada keterampilan teknis. Lebih dari itu, para peserta juga dibentuk karakternya: membangun kebiasaan kerja yang profesional, menghargai waktu, dan terbiasa pada standar industri yang tinggi.
Didukung oleh para trainer yang sabar dan selalu memberi motivasi, Sholeh merasa percaya dirinya tumbuh. Ia mengantongi sertifikat nasional dan internasional – modal penting untuk melangkah ke dunia kerja.

Soleh Nabi (Kiri) Bersama Sejumlah Rekannya Ketika Bekerja di BP LNG Tangguh (Foto: P2TIM)
Setelah lulus dari P2TIM, perjuangan Sholeh belum selesai. Ia harus melewati tantangan baru yakni mencari pekerjaan. Tak mudah, namun ia tak pernah patah semangat.
“Saya melamar ke mana-mana. Banyak yang tidak lolos. Tapi saya terus coba,” katanya.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Sholeh berhasil diterima di BP LNG Tangguh melalui program Job Training Acceleration Programme (JTAP) dan kini bertugas di bagian produksi. Bagi Sholeh, ini bukan hanya pekerjaan – ini adalah wujud mimpi yang menjadi nyata.
Yang selalu ia pegang adalah prinsip sederhana: “Masa orang luar bisa kerja di tanah kita, baru saya tidak bisa? Kalau mereka bisa, kenapa saya tidak bisa?”
Pesan untuk Generasi Muda Tujuh Suku
Kini, setelah mencapai salah satu titik penting dalam hidupnya, Sholeh tak ingin berjalan sendiri. Ia ingin berbagi semangat dan mengajak generasi muda lainnya – khususnya dari Tujuh Suku di Teluk Bintuni – untuk berani mengambil langkah.
“Daripada bingung, tidak jelas arah, atau menganggur, ayo ikut P2TIM. Di sana kita belajar banyak hal. Ini bisa jadi jalan buat membuka pikiran dan meraih masa depan lebih baik.”
Dengan ketulusan, ia mengingatkan bahwa perubahan tidak datang dari luar. Semua dimulai dari dalam diri sendiri. “Kalau bukan kita yang angkat derajat keluarga dan daerah kita, siapa lagi?”