Mengintip Olahan Dapur Sagu Forna Mama Puadi
- 12 Mar 2026 17:37 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Manokwari – Mengintip olahan dapur sagu mama Puadi yang mengolah sagu khas Papua menjadi sagu forna sejak tahun 2013 yang merupakan usaha turun temurun keluarga, awalnya menolak tawaran orang tua. Hal ini dikatakan oleh Rut Puadi, pemilik usaha Sagu Forna Mama Puadi dalam program Muda kreatif Berkah Ramadan, Produa Manokwari.Rabu, 11 Maret 20216.
Sagu Forno adalah makanan tradisional khas dari wilayah timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua, yang terbuat dari tepung sagu yang dibakar menggunakan cetakan khusus. Nama "forna" sendiri berasal dari bahasa Portugis atau Italia yang berarti oven atau tungku pembakaran. Memasak sagu forna (atau sagu lempeng) membutuhkan teknik tradisional menggunakan cetakan tanah liat yang disebut forna. Kunci utamanya adalah suhu cetakan yang harus benar-benar panas agar sagu matang merata dan tidak lengket.
Rut Puadi sendiri memproduksi sagu forna yang sudah diorder dari Amerika, Australia dan Turki. Produksi sinole dan sagu bungkus yang menggunakan daun pisang , baku sagu harus yang berwarna merah, agar awet tahan lama dan bisa terasa lembut , dibandingkan dengan sagu yang berwarna putih. Proses pembakaran sendiri memakan waktu tiga jam, sedangkan untuk penjualan sesuai orderan , harga dijual per sagu forna kemasan satuan seharga Rp 5000, namun jika diambil dirumah, harganya Rp 10.000 bisa dapat 3 pieces, sedangkan untuk sinole Rp 10.000 per pieces.
“Usaha Sagu memiliki prospek yang sangat menjanjikan untuk bisnis UMKM ke depan, terutama karena tren pangan lokal yang sehat, bebas gluten, dan tahan lama. Sagu forna, sebagai makanan tradisional khas Indonesia Timur, dapat dikemas ulang menjadi produk kekinian yang sehat dan bernilai jual tinggi.” Ujarnya.
Ditambahkan oleh Rut pemasaran sagu forna dilakukan secara offline diseputaran Pasar Borobudur dan lewat media sosial Facebook, Instagram dan TikTok. Untuk Kendala ketersediaan dari bahan baku sagu yang didapatkan dari Kampung Serui dan juga akses Kapal yang masuk Ke Manokwari. Kalo kapal masuk , bahan baku bisa ada, atau kalo yang dikampung tidak jual , kami juga tidak bisa membuat sagu forna ditambahkan oleh Rut.