HUT ke-22 Sulbar: Ekonomi Tumbuh 5,27 Persen, Kemiskinan Turun Diangka 10 Persen

  • 21 Sep 2026 15:08 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Refleksi 22 tahun perjalanan Provinsi Sulawesi Barat diwarnai capaian positif disektor ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Sulbar menembus diangka 5 persen , dengan capaian semester I 2026 sebesar 5,27 persen, sementara angka kemiskinan pada Maret 2026 turun di level 10 persen.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sulawesi Barat, Amujib, mengatakan capaian tersebut merupakan gambaran statistik yang menunjukkan perkembangan ekonomi Sulbar dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Sulbar pada 2025 juga tercatat cukup tinggi, yakni 5,36 persen, dan menjadi salah satu capaian yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya.

"Ini saya bicara tentang data statistik, bukan pandangan personal. Dalam tahun kedua, ternyata dengan kepiawaian Gubernur Sulawesi Barat dan Wakil Gubernur, dengan dukungan seluruh birokrasi, enam kabupaten dan seluruh masyarakat, Sulbar bisa mencapai pertumbuhan ekonomi semester I 2026 sebesar 5,27," ujar Amujib, saat menjadi narasumber di dialog interaktif RRI Mamuju, Senin, 21 September 2026.

Ia mengatakan capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sulbar telah mampu berada di atas level 5 persen dalam dua periode terakhir.

"Pada 2025 kita mencapai 5,36 persen. Artinya, kita mampu untuk bisa jauh lebih dari pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi tahun-tahun sebelumnya. Ini pertama kali kita melampaui angka 5 koma sekian persen," katanya.

Selain pertumbuhan ekonomi, Amujib menyoroti perkembangan indikator kemiskinan. Berdasarkan data Maret 2026, persentase penduduk miskin di Sulbar tercatat 10 persen.

Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena target pembangunan diarahkan agar tingkat kemiskinan dapat ditekan hingga tidak lagi berada pada level dua digit.

"Demikian juga dengan kemiskinan. Ini menargetkan bahwa angka kemiskinan itu tidak boleh dua digit. Di Maret 2026 ini ternyata kemiskinan kita sudah berada di angka 10 persen," ujarnya.

Amujib menegaskan, berbagai capaian tersebut perlu dibaca berdasarkan data statistik sebagai indikator pembangunan, bukan semata-mata berdasarkan penilaian personal.

"Sekali lagi saya bahasakan bahwa kita harus melihat angka-angka ini adalah angka-angka statistik," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....