BMKG: 85 Persen Wilayah Sulbar Terancam Defisit Hujan

  • 30 Mar 2026 13:09 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan hampir 85 persen wilayah Sulawesi Barat mengalami sifat hujan di bawah normal sepanjang 2026, jauh lebih rendah dari rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.

Kondisi ini diprediksi terus berlangsung seiring masuknya musim kemarau yang diperkirakan dimulai pada dasarian ketiga Juni hingga dasarian pertama Juli 2026, dengan puncak terjadi pada bulan Agustus.

Prakirawan Meteorologi Pertama BMKG Mamuju, Anggie Prabowo, saat diwawancarai di kantornya, Senin, 30 Maret 2026, mengatakan, sebagian wilayah Kabupaten Majene dan Polewali Mandar bahkan tercatat lebih awal memasuki kemarau, yakni sejak dasarian pertama Februari 2026, dan kondisi tersebut masih berlangsung hingga kini.

"Hampir 85 persen wilayah Sulawesi Barat itu sifat hujannya bawah normal, artinya lebih rendah dari rata-rata klimatologisnya atau rata-rata 30 tahunnya," ujar Anggie.

Kondisi ini diperparah oleh prakiraan fenomena iklim global, di mana indeks ENSO saat ini berada di posisi netral dengan nilai -0,28, namun diprediksi bertransisi menuju La Niña lemah pada semester kedua 2026.

"Untuk para petani bisa lebih bijak lagi untuk mengatur atau menangani ketersediaan air, dengan cara melakukan penyimpanan air, serta memilih varietas tanaman yang jangka waktu tanamnya pendek dan memerlukan air yang tidak terlalu banyak," tambah Anggie.

BMKG mengimbau para petani segera menyesuaikan pola tanam, sementara nelayan diminta rutin memantau informasi tinggi gelombang dan arus laut sebelum melaut.

Masyarakat umum juga diimbau terus mengakses informasi prakiraan cuaca resmi dari BMKG guna mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....