Petani Mamuju Sukses Beralih dari Nilam ke Katuk

  • 26 Jan 2026 15:27 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Seorang petani di Mamuju, Sulawesi Barat, berhasil meningkatkan pendapatan setelah beralih dari komoditas nilam ke budidaya tanaman katuk sejak awal 2024.

Seorang petani di Mamuju, Ahmad, yang sebelumnya menanam nilam, kakao, dan kacang-kacangan, mulai menanam seribu bibit katuk di tiga bedengan berukuran masing-masing 120 kali 10 meter. Ia mengaku sekitar 800 bibit tumbuh menjadi tanaman produktif, meski pada awalnya ia sempat ragu karena belum yakin siapa yang akan membeli hasil panennya.

“Berapa bulan saya sempat ragu, siapa yang beli ini, waduh setengah mati, perlu kah saya paksakan dikerjakan, sekalinya masuk bulan Agustus, ada kabar pak guru bakal masuk membeli katuknya, alhamdulillah akhirnya datang betul dan dibeli juga,” ujar Ahmad dalam Dialog Ngobras di RRI Mamuju, Minggu 25 Januari 2026.

Pada panen pertama, Ahmad menjual sekitar 800 potong katuk namun merasa belum balik modal karena masih ada sisa biaya sekitar Rp600 ribu dari investasi awal. Dua bulan kemudian, pemangkasan kedua menghasilkan sekitar 5.000 potong yang dijual seribu rupiah per potong, membuatnya meraup hampir Rp5 juta dari katuk.

“Dua bulan kemudian saya potong lagi, potong terus, saya mendapat hampir lima juta, lima ribu potong kali seribu rupiah, belum lagi empat kilo yang tadi masih ada di rumah, jadi saya bilang alhamdulillah sekarang sudah lebih lima ribu batang,” tambahnya.

Ahmad menilai, budidaya katuk jauh lebih mudah dibanding nilam karena tidak membutuhkan kayu bakar dan proses penyulingan yang rumit serta memakan waktu. Menurutnya, pekerjaan utama petani katuk adalah menanam, memelihara, memberi pupuk secukupnya, lalu memanen dan menimbang ketika tanaman sudah siap dipotong.

Ahmad juga mengajak petani lain di Mamuju agar tidak ragu menanam katuk karena pekerjaan dinilai tidak ribet dan kebutuhan lahannya relatif kecil. Ia berharap semakin banyak petani mengikuti jejaknya beralih ke katuk, sehingga ekonomi keluarga terangkat sekaligus mendukung pengembangan komoditas lokal bernilai tambah.

Reporter : Muh. Ilham

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....