Kue Nastar, Sajian Ikonik di Momen Spesial
- 30 Mar 2026 21:32 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Kue nastar menjadi salah satu jenis kue yang hampir tak pernah absen dalam setiap perayaan di Indonesia, khususnya di Hari Raya Idul Fitri. Dari tahun ke tahun, nastar seperti menjadi penghuni tetap meja tamu saat momen lebaran. Bahkan, seperti tak afdal rasanya jika ajang bersilaturahmi di hari kemenangan tersebut dilalui tanpa mencicipi kue dengan rasa manis asam ini.
Kue kering berbentuk bulat kecil dengan isian selai nanas ini dikenal karena lumer di mulut. Tak heran, kue ini menjadi kue kering favorit yang diminati berbagai kalangan usia. Pada tahun 2025, sebuah lembaga survey merilis hasil surveynya yang menyatakan bahwa lebih dari setengah kaum milenial dan gen Z yang menjadi respondennya menjadikan nastar sebagai kue kering favorit mereka.
Namun dibalik keberadaan nastar yang seolah menjadi menu wajib saat lebaran, tak banyak orang yang tahu bahwa kue nastar sesungguhnya bukanlah kue asli dari Indonesia. Secara historis, nastar merupakan hasil adaptasi dari kue-kue Eropa yang masuk ke Nusantara pada masa kolonial. Nama “nastar” sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu ananas (nanas) dan taart (tart), yang kemudian berkembang menjadi sajian khas Indonesia dengan sentuhan lokal.
| Baca juga: Ketupat, Hidangan Khas Hari Raya Idul Adha |
Kue nastar pada dasarnya merupakan hasil adaptasi dari kue pai khas Belanda yang umumnya diisi dengan selai buah seperti bluberry, strawberry, dan apel. Ketika resep kue pai tersebut dibawa ke nusantara, dilakukan beberapa penyesuaian seperti mengganti buah yang dijadikan selai isian menjadi buah nanas yang lebih banyak dan lebih muda ditemukan di Indonesia.
Nastar adalah bukti bahwa resep makanan tidak pernah statis. Saat berpindah daerah, sebuah resep akan beradaptasi dengan bahan dan selera masyarakat setempat, lalu menyatu secara perlahan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Indonesia. Keragaman kuliner di Indonesia tidak terlepas dari proses akulturasi dengan budaya asing, termasuk pengaruh Eropa pada masa kolonial. Keterkaitan antara budaya asing dan tradisi lokal ini menunjukkan bagaimana sebuah makanan dapat melewati proses adaptasi yang panjang. Di Indonesia, akulturasi budaya selama berabad-abad menjadikan nastar bukan sekedar hidangan, melainkan juga bagian dari tradisi menyambut tamu dan mempererat silaturahmi saat hari raya.
Di sisi lain, nastar juga memiliki makna simbolis yang kuat dalam beberapa tradisi. Etnis Tionghoa menyebut nastar dengan sebutan ong lai atau pir emas yang dipercaya melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan rezeki. Makna ini secara tidak langsung memperkuat citra nastar sebagai hidangan istimewa dalam berbagai perayaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....