Kurang Tidur Bisa Tingkatkan Risiko Kesalahan dan Kecelakaan Kerja
- 02 Okt 2026 17:44 WIB
- Mamuju
RRI.CO.ID, Mamuju - Bagi para pekerja yang menjalani sistem kerja shift (giliran), tantangan kesehatan fisik dan mental sering kali lebih kompleks dibandingkan pekerja dengan jam kerja reguler.
Menanggapi hal tersebut, dr. Yohana, seorang Dokter Umum yang berfokus pada Manajemen Berat Badan, Nutrisi yang Dipersonalisasi, Kesehatan Rambut & Kebugaran, membagikan panduan praktis dan realistis bagi para pekerja shift dalam menjaga kualitas tidur serta kesehatan secara menyeluruh.
Menurut dr. Yohana, pekerja shift menghadapi tantangan yang lebih besar karena waktu istirahat mereka kerap bertabrakan dengan ritme sirkadian alami tubuh.
Ia menjelaskan bahwa kurang tidur pada pekerja shift tidak hanya berdampak pada kebugaran, tetapi juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko kesalahan serta kecelakaan kerja.
"Pekerja shift memang punya tantangan lebih besar karena waktu tidur sering bertabrakan dengan ritme sirkadian tubuh. Bahkan kurang tidur pada pekerja shift juga berkaitan dengan peningkatan risiko kesalahan dan kecelakaan kerja," ujar dr. Yohana.

Lebih lanjut, dr. Yohana menegaskan bahwa penanganan masalah tidur bagi pekerja shift tidak bisa disamakan dengan pola konvensional.
Fokus utamanya bukan sekadar dogma "pokoknya harus tidur malam", melainkan bagaimana memenuhi kebutuhan tidur yang cukup dan berkualitas dalam kurun waktu 24 jam.
"Jadi pada beberapa kasus bukan tentang 'pokoknya harus tidur malam'. Tapi: 'Bagaimana caranya mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas dalam 24 jam?'" tegasnya.
Untuk membantu para pekerja shift tetap bugar dan produktif, dr. Yohana membagikan enam strategi realistis yang dapat diterapkan sehari-hari:
1. Jadikan Tidur sebagai Prioritas: Selepas menjalankan shift malam, waktu tidur harus ditempatkan sebagai prioritas utama dan tidak dikorbankan demi menyelesaikan pekerjaan rumah atau aktivitas lainnya.

2. Kejar Total Waktu Tidur: Orang dewasa umumnya dianjurkan untuk tidur secara rutin minimal 7 jam sehari. Pada pekerja shift, waktu tidur utama ini dapat dikombinasikan dengan tidur siang (nap) yang terencana.
3. Gunakan Kopi secara Bijak: Kopi atau kafein dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menjaga kewaspadaan, namun bukan sebagai "pengganti tidur". Konsumsinya juga harus dihindari saat mendekati waktu tidur.

4. Ciptakan Suasana Tidur Siang seperti Malam: Agar tidur siang setelah shift lebih nyaman, buatlah kondisi kamar menyerupai malam hari yaitu gelap, sejuk, dan tenang. Penggunaan blackout curtain, penutup mata (eye mask), atau penyumbat telinga (earplug) dapat sangat membantu.

5. Hindari "Balas Dendam Makan": Kurang tidur yang dibarengi rasa lapar jangan sampai dijadikan momen untuk makan berlebihan sebagai bentuk "balas dendam". Pekerja disarankan menyiapkan makanan sebelum shift dimulai, yang terdiri dari protein, serat atau sayur, serta karbohidrat secukupnya sesuai kebutuhan harian.

6. Manfaatkan Power Nap: Tidur singkat atau power nap berdurasi 10 hingga 30 menit terbukti efektif meningkatkan kewaspadaan dan performa sementara. Kendati demikian, power nap hanyalah penolong di sela-sela jadwal dan bukan pengganti tidur utama.
Menutup penjelasannya, dr. Yohana memberikan pesan penyemangat bagi seluruh pekerja shift agar tidak merasa terbebani oleh standar jam tidur orang kantoran.
"Jadi buat kamu yang kerja shift: Kamu tidak harus punya jam tidur seperti orang kantoran. Tapi kamu tetap harus punya strategi tidur seperti seseorang yang sedang menjaga kesehatan," pungkas dr. Yohana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....