Terlalu Sering Menyenangkan Orang Lain Bisa Bikin Kehilangan Diri Sendiri

  • 25 Apr 2026 07:04 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Kebingungan dalam menentukan apa yang diinginkan dalam hidup kerap dianggap hal sepele.

Namun dalam perspektif psikologi, kondisi ini bisa menjadi tanda seseorang terlalu lama hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Hal ini disampaikan oleh dr. Yuliana, CHT, yang menjelaskan bahwa perasaan tidak tahu apa yang disukai, bahkan dalam hal sederhana, dapat muncul ketika seseorang terbiasa mengutamakan kebahagiaan orang lain dibanding dirinya sendiri.

“Kalau kamu sering bingung sebenarnya kamu mau apa, kamu suka apa, bahkan untuk hal-hal sederhana dalam hidupmu sendiri, itu bisa jadi tanda kamu terlalu lama hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain,” jelasnya.

Kebiasaan ini sering kali berakar dari pola people pleasing, yakni kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain.

Seseorang yang berada dalam pola ini biasanya terbiasa menyesuaikan diri, menjaga perasaan orang lain, dan memastikan lingkungan sekitarnya tetap nyaman.

Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak disadari. Ketika terlalu sering menomorduakan diri sendiri, seseorang bisa kehilangan koneksi dengan dirinya. Ia menjadi asing terhadap perasaan, kebutuhan, bahkan keinginannya sendiri.

“Kamu terbiasa menyesuaikan diri, menenangkan orang lain, dan memastikan semua orang nyaman, sampai kamu lupa rasanya nyaman jadi diri sendiri. Dan tanpa sadar, kamu jadi asing dengan dirimu sendiri,” tambahnya.

Akibatnya, ketika dihadapkan pada pilihan atau keputusan penting, banyak orang justru merasa bingung.

Mereka kesulitan mengenali apa yang sebenarnya diinginkan karena selama ini jarang mendengarkan suara diri sendiri.

Dalam kondisi tersebut, mengenal diri kembali menjadi langkah penting. Proses ini tidak instan, melainkan perlu waktu dan kesadaran untuk kembali memahami kebutuhan, emosi, serta batasan pribadi.

dr. Yuliana juga menekankan bahwa kebingungan ini bisa berkaitan dengan pengalaman masa lalu, seperti trauma, kecemasan, hingga luka emosional yang belum terselesaikan.

Ia menyarankan, bagi yang mengalami kondisi serupa, untuk mulai memberi ruang pada diri sendiri dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan.

Sumber: dr. Yuliana, CHTTerlalu Sering Menyenangkan Orang Lain Bisa Bikin Kehilangan Diri Sendiri

Kebingungan dalam menentukan apa yang diinginkan dalam hidup kerap dianggap hal sepele. Namun dalam perspektif psikologi, kondisi ini bisa menjadi tanda seseorang terlalu lama hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Hal ini disampaikan oleh dr. Yuliana, CHT, yang menjelaskan bahwa perasaan tidak tahu apa yang disukai, bahkan dalam hal sederhana, dapat muncul ketika seseorang terbiasa mengutamakan kebahagiaan orang lain dibanding dirinya sendiri.

“Kalau kamu sering bingung sebenarnya kamu mau apa, kamu suka apa, bahkan untuk hal-hal sederhana dalam hidupmu sendiri, itu bisa jadi tanda kamu terlalu lama hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain,” jelasnya.

Kebiasaan ini sering kali berakar dari pola people pleasing, yakni kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain.

Seseorang yang berada dalam pola ini biasanya terbiasa menyesuaikan diri, menjaga perasaan orang lain, dan memastikan lingkungan sekitarnya tetap nyaman.

Namun di balik itu, ada konsekuensi yang tidak disadari. Ketika terlalu sering menomorduakan diri sendiri, seseorang bisa kehilangan koneksi dengan dirinya. Ia menjadi asing terhadap perasaan, kebutuhan, bahkan keinginannya sendiri.

“Kamu terbiasa menyesuaikan diri, menenangkan orang lain, dan memastikan semua orang nyaman, sampai kamu lupa rasanya nyaman jadi diri sendiri. Dan tanpa sadar, kamu jadi asing dengan dirimu sendiri,” tambahnya.

Akibatnya, ketika dihadapkan pada pilihan atau keputusan penting, banyak orang justru merasa bingung. Mereka kesulitan mengenali apa yang sebenarnya diinginkan karena selama ini jarang mendengarkan suara diri sendiri.

Dalam kondisi tersebut, mengenal diri kembali menjadi langkah penting. Proses ini tidak instan, melainkan perlu waktu dan kesadaran untuk kembali memahami kebutuhan, emosi, serta batasan pribadi.

dr. Yuliana juga menekankan bahwa kebingungan ini bisa berkaitan dengan pengalaman masa lalu, seperti trauma, kecemasan, hingga luka emosional yang belum terselesaikan.

Ia menyarankan, bagi yang mengalami kondisi serupa, untuk mulai memberi ruang pada diri sendiri dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan.

Sumber: tiktok dr. Yuliana, CHT

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....