Platipus Menjadi Hewan Purba yang Membingungkan Para Ilmuwan

  • 30 Sep 2026 21:16 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Jika ada penghargaan untuk hewan paling membingungkan di Bumi, platypus pasti akan jadi juaranya. Hewan asal Australia ini terlihat seperti hasil eksperimen gagal: punya paruh bebek, ekor berang-berang, kaki berselaput seperti hewan air, tapi tubuhnya ditutupi bulu lebat layaknya mamalia.

Tak heran, ketika ilmuwan Eropa pertama kali menerima spesimen platypus dari Australia pada akhir abad kedelapan belas, reaksi mereka bukanlah kekaguman, melainkan kecurigaan total.

Mereka mengira hewan itu adalah tipuan. Pada masa itu, ahli taksidermi memang sering menjahit bagian tubuh hewan yang berbeda untuk mengelabui kolektor.

Platypus terlihat terlalu aneh untuk menjadi kenyataan. Beberapa ilmuwan bahkan mencoba mencabut paruhnya untuk membuktikan bahwa itu hanyalah lem.

Namun setelah penelitian lebih lanjut, satu fakta menjadi jelas: platypus memang benar-benar ada. Dan ironisnya, semakin banyak dipelajari, semakin aneh pula hewan ini terlihat.

Fosil Hidup dari Cabang Paling Kuno

Secara ilmiah, platypus atau Ornithorhynchus anatinus termasuk dalam kelompok monotremata.

Ini adalah cabang mamalia yang sangat kuno dan hanya menyisakan lima spesies hingga saat ini: satu platypus dan empat jenis echidna. Cabang ini telah terpisah dari mamalia modern lainnya sekitar 166 juta tahun lalu.

Berbeda dari 99% mamalia modern yang melahirkan anak hidup, monotremata masih mempertahankan cara reproduksi yang jauh lebih tua, yaitu bertelur. Inilah yang membuat posisinya sangat unik.

Ia adalah mamalia, tetapi bertelur. Induk betina akan mengerami telur selama sekitar 10 hari di dalam sarang. Ia menghasilkan susu untuk anaknya, tetapi tidak memiliki puting susu seperti mamalia lain.

Susunya keluar melalui pori-pori khusus di kulit perutnya, dan anak platypus akan menjilati bulu induknya untuk minum. Ia berdarah panas dan memiliki bulu yang membantu menjaga suhu tubuh, namun sebagian besar waktunya dihabiskan berburu di sungai dan perairan tawar yang dingin.

Jadi, platypus bukanlah gabungan dari beberapa hewan modern seperti bebek dan berang-berang. Justru sebaliknya.

Banyak karakteristik yang dimilikinya merupakan peninggalan dari leluhur purba. Mereka adalah jendela hidup yang mewakili salah satu cabang paling awal dalam sejarah evolusi mamalia yang masih bertahan hingga sekarang.

Senjata Rahasia yang Mematikan

Keanehan platypus tidak berhenti di situ. Ada tiga fakta super aneh lainnya yang tidak ada di transkrip awal:

1. Paruh dengan Sensor Listrik: Paruh bebeknya bukanlah untuk sekadar gaya. Paruh itu dilengkapi dengan sekitar 40.000 reseptor elektroreseptor. Saat menyelam, platypus menutup mata, telinga, dan hidungnya.

Ia berburu murni dengan mendeteksi denyut listrik kecil yang dikeluarkan oleh otot udang dan serangga air. Ia adalah satu dari sedikit mamalia yang punya indra keenam ini.

2. Jantan yang Berbisa: Platypus jantan adalah salah satu dari sedikit mamalia berbisa di dunia. Di kaki belakangnya terdapat taji berongga yang terhubung ke kelenjar bisa.

Racunnya tidak mematikan bagi manusia, tapi bisa menyebabkan rasa sakit luar biasa yang tidak hilang selama berminggu-minggu dan kebal terhadap obat pereda nyeri biasa.

3. Tidak Punya Perut: Platypus berevolusi kehilangan lambungnya. Esofagusnya terhubung langsung ke usus. Ini adalah adaptasi aneh yang masih menjadi misteri bagi para ilmuwan.

Habitat dan Ancaman

Habitatnya terbatas di Australia bagian Timur dan Tasmania, mereka hidup di sungai, anak sungai, dan perairan tawar yang relatif bersih dan tenang. Platypus sangat sensitif terhadap polusi air.

Sebagian besar aktivitasnya berlangsung pada senja, malam, atau dini hari.

Karena sifatnya yang pemalu, soliter, dan kebanyakan aktif di dalam air yang keruh, manusia mengenal hewan ini jauh lebih lambat dibanding banyak mamalia lain yang hidup di wilayah yang sama. Bahkan hingga kini, populasinya sulit dihitung secara akurat.

Saat ini, status platypus adalah Near Threatened atau hampir terancam.

Perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan, pembangunan bendungan, dan polusi sungai menjadi ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup fosil hidup ini.

Platypus membuktikan bahwa alam tidak selalu bekerja dengan kotak-kotak klasifikasi yang kaku.

Ia adalah pengingat bahwa evolusi tidak membuat hewan yang sempurna, tetapi membuat hewan yang berhasil bertahan hidup dengan caranya sendiri yang aneh dan menakjubkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....