Rumah untuk Alie, Luka dan Harapan Seorang Anak

  • 03 Sep 2025 07:06 WIB
  •  Mamuju

KBRN Mamuju: Film Indonesia terbaru berjudul Rumah untuk Alie berhasil menyentuh hati penonton dengan kisah yang penuh luka, air mata, namun juga menyimpan secercah harapan. Setelah tayang perdana di bioskop pada April 2025, kini film yang diangkat dari novel populer karya Lenn Liu (Lotta) ini bisa disaksikan di Netflix sejak 28 Agustus 2025.

Cerita berpusat pada sosok Alie Ishala Samantha (diperankan Anantya Kirana), seorang anak bungsu dari lima bersaudara dan satu-satunya perempuan di keluarganya. Sejak kecil, ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu karena sang ibu meninggal saat melahirkannya.

Peristiwa itu membuat Alie dipandang sebagai “penyebab” tragedi, hingga sang ayah, Abimanyu (Rizky Hanggono), dan saudara-saudaranya kerap melampiaskan kemarahan kepadanya.

Tak berhenti di rumah, penderitaan Alie berlanjut di sekolah. Ia harus menghadapi perundungan (bullying) dari teman-temannya, yang semakin memperburuk kondisi mentalnya. Alie tumbuh dalam kesepian, merindukan sebuah rumah sejati tempat di mana ia diterima, disayangi, dan bisa merasa aman.

Film ini menyoroti perjalanan batin seorang anak yang terus berjuang mencari arti keluarga dan cinta, meski dunia di sekitarnya terasa menolak kehadirannya.

Disutradarai oleh Herwin Novianto dan diproduksi oleh Falcon Pictures, film ini mampu mengemas isu sosial yang berat menjadi tontonan yang menggugah. Dari sisi alur, Rumah untuk Alie tidak hanya menyajikan drama keluarga, tetapi juga mengajak penonton menyelami realitas pahit yang kerap terjadi di kehidupan nyata: perundungan, kekerasan emosional, hingga dampaknya pada kesehatan mental anak.

Akting Anantya Kirana patut diapresiasi. Ia berhasil menghidupkan karakter Alie dengan penuh emosi dan natural, membuat penonton ikut merasakan perih sekaligus kekuatan dalam dirinya.

Rizky Hanggono juga tampil kuat sebagai figur ayah keras yang penuh amarah, sementara jajaran pemain pendukung menambah kedalaman cerita.

Secara visual, sinematografi film ini cukup sederhana namun efektif menegaskan atmosfer suram kehidupan Alie.

Penggunaan pencahayaan redup dalam beberapa adegan berhasil mempertegas perasaan tertekan yang dialami tokoh utama. Musik latar pun memperkuat emosi tanpa berlebihan.

Pesan moral film ini sangat jelas: setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang dan rasa aman dari keluarganya. Ia juga menjadi pengingat tentang betapa seriusnya dampak bullying terhadap masa depan seorang anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....