Buaya Ancaman bagi Perempuan Passau Uwai di Sungai Mandar

  • 13 Mei 2026 23:02 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Passau’ uwai, sebutan bagi perempuan pencari dan pengangkut air bersih dengan berenang di Sungai Mandar. Setiap hari perempuan di Tinambung, Polewali Mandar, menceburkan diri ke Sungai Mandar yang dikenal banyak buaya.

Pembuat film dokumenter Butterfly on a River, Ulfa Evitasari, dalam Dialog di RRI Mamuju, mengatakan mereka harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan berenang sambil menarik puluhan jeriken air di aliran sungai yang dikenal banyak buaya dan arus deras tidak menentu.

“Sungai Mandar itu terkenal banyak buayanya, kami juga pernah melihat sendiri buaya saat passau uwai berenang,” katanya.

Ulfa menceritakan, subjek filmnya, Sa’diang, pernah nyaris hanyut saat tiba-tiba datang arus deras ketika ia berenang sendirian membawa jeriken berisi air dari hulu sungai menuju permukiman warga.

“Saat dia buru-buru pulang berenang membawa beberapa jerigen, tiba-tiba arus deras datang dan jergennya terpencar ke mana-mana, dia hampir tidak ditemukan,” tutur Ulfa menggambarkan bahaya yang mereka hadapi.

Dalam beberapa bulan terakhir, serangan buaya di aliran Sungai Mandar, termasuk wilayah Tinambung, dilaporkan semakin masif dan menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, sehingga menambah risiko bagi passau’ uwai yang setiap hari bergantung pada sungai.

Meski kini sudah tersedia layanan PDAM dan air galon, banyak warga Tinambung tetap mengandalkan air yang dibawa passau uwai karena faktor kebiasaan turun-temurun dan rasa air yang dianggap lebih cocok, membuat aktivitas berbahaya itu tetap berlangsung.

Ulfa berharap pemerintah dan pemangku kebijakan segera memberi perhatian serius, mulai dari penanganan ancaman buaya hingga penyediaan akses air yang lebih aman, agar perempuan passau’ uwai tidak lagi harus mempertaruhkan nyawa demi kebutuhan dasar air bersih.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....