Dinas Pangan Sulbar Investigasi Mendalam Terkait Kasus di SPPG Aralle

  • 09 Mei 2026 13:58 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju – Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Barat meminta dilakukan investigasi menyeluruh terkait dugaan temuan belatung pada menu telur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aralle yang sempat viral di media sosial.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Dinas Pangan Provinsi Sulawesi Barat, Sofiawati Sofyan, menegaskan setiap kasus yang mencuat harus dijadikan bahan evaluasi dan pembelajaran untuk memperbaiki pengawasan keamanan pangan.

Menurutnya, investigasi penting dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut ( ditemukan belatung pada makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MI Desa Uhaidao, Aralle Kabupaten Mamasa), baik dari sisi bahan baku maupun proses pengolahan di dapur.

“Kalau tidak salah itu viral karena ada belatung di masakan telurnya. Ini juga yang kami diskusikan di sekretariat MBG, bahwa ada baiknya ketika ada kasus seperti itu menjadi bahan edukasi dan pembelajaran sehingga harus dilakukan investigasi,” ujar Sofiawati, Sabtu, 9 Mei 2026.

Ia menjelaskan, apabila ditemukan belatung atau ulat pada telur, hal itu dapat mengindikasikan bahan pangan tersebut telah mengalami pembusukan sebelum diolah.

Selain itu, proses pengolahan juga perlu ditelusuri untuk mengetahui apakah ada kelalaian saat pemeriksaan bahan baku sebelum dimasak.

“Ketika ada belatung di telur, pertama berarti ada indikasi telur itu mengalami pembusukan. Kedua, harus dilihat bagaimana telur itu diolah,” katanya.

Sofiawati menuturkan, jika telur hanya direbus, kemungkinan kerusakan pada isi telur sulit terdeteksi karena masih tertutup cangkang. Namun berdasarkan informasi yang diterimanya, telur dalam kasus tersebut diolah dengan cara diceplok.

Menurut dia, dalam proses tersebut seharusnya kondisi telur dapat langsung terlihat saat dipecahkan ke wajan.

“Kalau telur diceplok, berarti saat dipecah masuk ke wajan seharusnya langsung kelihatan. Ditambah lagi dari sisi aroma, bahan pangan yang mengalami pembusukan biasanya memiliki tanda fisik dan bau yang bisa dikenali,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaporan dan investigasi yang mendalam sangat penting agar kasus serupa tidak terulang sekaligus menjadi edukasi bagi pengelola dapur SPPG maupun masyarakat.

Sofiawati juga mengingatkan agar informasi yang beredar di media sosial tetap disikapi secara proporsional, karena dampaknya dapat berujung pada penangguhan operasional dapur sebelum hasil investigasi tuntas.

“Kalau langsung diviralkan tanpa investigasi mendalam, kasihan juga dapurnya bisa langsung kena suspend,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....