Universitas Waskita Dharma Gelar Buka Bersama Lintas Agama

  • 12 Mar 2026 11:55 WIB
  •  Malang

RRI .CO.ID, Malang – Universitas Waskita Dharma mengukir sejarah baru dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, Rabu 11 Maret 2026. Melalui kegiatan buka puasa bersama perdana yang digelar di lingkungan kampus, universitas ini menegaskan komitmennya untuk membangun atmosfer kerukunan antarumat beragama dan menghapus sekat-sekat perbedaan di antara civitas akademika.

Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ritual seremonial, melainkan sebagai langkah konkret untuk menciptakan harmonisasi antara mahasiswa dan dosen. Fokus utamanya adalah mewujudkan ruang belajar yang serasi tanpa adanya batasan etnis, budaya, maupun agama.

Dalam sambutannya, Drs. Syamsul Sukmono Edy, S.H., M.Hum., menekankan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah murni kebersamaan.

Beliau menjelaskan bahwa acara ini melibatkan:

• 157 Mahasiswa dari berbagai latar belakang.

• 21 Dosen yang turut hadir mendampingi.

• Panitia Pelaksana yang mayoritas merupakan mahasiswa non-muslim.

"Kegiatan ini mengutamakan mahasiswa di lingkungan kampus sebagai sarana mempererat kebersamaan. Tidak ada motif lain selain keinginan untuk menyatukan kita semua," ujar Drs. Syamsul.

Hal yang paling menarik perhatian adalah komposisi kepanitiaan. Keterlibatan aktif mahasiswa non-muslim dalam mengelola acara buka puasa ini menjadi bukti nyata bahwa toleransi di Universitas Waskita Dharma telah melampaui batas-batas formalitas. Hal ini menciptakan kesan mendalam mengenai semangat gotong royong yang tinggi di lingkungan kampus.

Ke depan, Universitas Waskita Dharma berencana menjadikan agenda ini sebagai tradisi tahunan yang lebih luas. Tujuannya adalah memastikan bahwa momen kebersamaan ini tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga menjadi milik seluruh penganut agama lain di kampus.

Langkah ini diambil untuk:

  1. Menghilangkan kesenjangan (gap) komunikasi antar mahasiswa.
  2. Membangun wadah silaturahmi yang berkesan dan kokoh.
  3. Memperkuat fondasi keberagaman sebagai kekayaan intelektual kampus.

"Kami ingin memastikan tidak ada lagi jarak. Inilah wadah kita untuk saling mengenal dan menguatkan satu sama lain," pungkas Drs. Syamsul. (dwi)

Rekomendasi Berita