Kisah Daniel Lukas Rorong: Cinta Tulus di tengah Perbedaan

  • 01 Mar 2026 14:10 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Rintik hujan yang turun perlahan di Kota Malang di penghujung bulan Februari, menjadi saksi perbincangan hangat penuh makna antara Music Director RRI Malang dan sosok ayah yang belakangan viral, Daniel Lukas Rorong. Wawancara eksklusif yang berlangsung hingga mendekati tengah malam itu terasa lebih seperti obrolan keluarga dibanding sesi tanya jawab formal.

Di tengah suasana santai sebuah kafe, Daniel membuka cerita tentang momen yang mengubah arah hidup keluarganya. Ia menegaskan, keputusan anak-anaknya untuk masuk pondok pesantren bukanlah kehendaknya, melainkan pilihan mereka sendiri.

“Awalnya saya kaget, bahkan sempat kecewa,” ujarnya jujur, Sabtu (28/2/2026) malam.

Saat itu, ia telah menyiapkan jalur pendidikan berbeda bagi anak pertamanya, mulai dari rencana masuk SMP negeri melalui jalur prestasi hingga pengembangan bakat di dunia seni dan olahraga. Namun, keinginan sang anak justru mengarah pada kehidupan pesantren.

Alih-alih menolak, Daniel memilih mendampingi. Ia mengajak anaknya berkeliling, melihat berbagai pondok di Malang dan Batu, hingga akhirnya sang anak mantap memilih salah satu pesantren. Dari situlah, perlahan cara pandangnya berubah.

Bagi Daniel, pendidikan pesantren bukan sekadar soal agama. Ia melihatnya sebagai tempat pembentukan karakter, mental, dan kemandirian. “Di pondok itu anak-anak belajar untuk survive, belajar menghadapi kehidupan,” tuturnya.

Ia pun menepis stigma negatif yang kerap melekat, dan justru menilai pesantren sebagai salah satu bentuk pendidikan terbaik bagi anak.

Sebagai seorang non-Muslim, Daniel mengaku tak pernah merasa khawatir kehilangan kedekatan dengan anak-anaknya, meski mereka menempuh jalan religius yang berbeda. Sebaliknya, ia justru menjadi pendukung paling depan.

“Saya sering bilang, nanti papamu yang nonis ini akan duduk paling depan mendengarkan kajianmu,” ucapnya, menggambarkan harapan besar kepada anaknya kelak.

Harapan itu bukan sekadar ucapan. Daniel bahkan memiliki mimpi besar yaitu melihat anaknya melanjutkan pendidikan hingga ke Universitas Al-Azhar di Mesir. Ia terinspirasi dari tokoh-tokoh ulama yang dikenal luas dengan dakwah yang menyejukkan, seperti Hanan Attaki dan Adi Hidayat.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai toleransi bukan sekadar konsep bagi Daniel. Ia menjalaninya secara nyata. Saat anak-anaknya pulang dari pondok, ia ikut membangunkan mereka sahur, mengingatkan waktu salat ketika adzan berkumandang, hingga menemani momen berbuka puasa, meski dirinya tidak menjalankan ibadah tersebut.

Hubungan harmonis dalam keluarga juga dibangun melalui komunikasi dan kepercayaan. Daniel menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sang istri, namun tetap memberikan dukungan penuh atas setiap keputusan anak-anaknya.

Kebanggaan terbesar Daniel sebagai ayah pun hadir dari hal-hal yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Salah satunya ketika anaknya berhasil mencapai target hafalan Al-Qur’an sebuah momen yang ia sebut sangat membanggakan, terlebih sebagai seorang ayah dengan keyakinan berbeda.

Nilai toleransi yang ia jalani ternyata bukan hadir begitu saja. Daniel mengaku belajar dari kedua orang tuanya yang dikenal sangat terbuka dan aktif dalam kehidupan sosial lintas agama. Dari situlah ia memahami bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan.

Di akhir perbincangan, Daniel menyampaikan pesan sederhana namun dalam bagi para orang tua. Menurutnya, anak bukanlah objek yang harus selalu mengikuti kehendak orang tua, melainkan individu yang perlu didengar dan didukung.

“Anak itu titipan. Mereka punya hak menentukan jalan hidupnya. Kita cukup mendukung dan menjadi tempat mereka pulang,” ungkapnya.

Malam semakin larut, hujan pun mulai reda. Namun hangatnya cerita Daniel Lukas Rorong meninggalkan kesan mendalam. Dari sudut kecil di Malang, ia menunjukkan bahwa cinta dalam keluarga sejatinya tak mengenal batas bahkan dalam perbedaan keyakinan sekalipun.(IyanMD)

Rekomendasi Berita