Fenomena Sound Horeg Pada Karnaval Kemerdekaan RI
- 13 Agt 2025 23:17 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Agustus adalah bulan yang sakral dan sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia , karena bulan Agustus adalah bulan kemerdakaan republik Indonesia, yang mana disetiap tahunnya diperingati dan dirayakan seluruh warga Indonesia. Dari mengibarkan bendera sebulan penuh, merias lingkungan dengan nuansa merah putih, berbagai lomba agustusan hingga puncaknya adalah karnaval.
Tapi kali ini ada yang beda karnaval peringati hari kemerdekaan republic Indonesia yang biasanya dinanti – nanti, menjadi kegiatan yang dihindari sebagian masyarakat karena adanya sound horeg yang ikut dalam karnaval kemerdekaan.
Sound horeg diambil dari gabungan bahasa Inggris dengan bahasa Jawa. "Sound" berarti suara, sedangkan "horêg" dalam bahasa Jawa berarti "bergetar", jadi sound horeg adalah sebuah parade tata suara (sound system) dalam ukuran sangat besar cenderung mengembangkan frekuensi bas agar lingkungan sekitar bergetar. Truk yang digunakan untuk Sound Horeg umumnya adalah truk jenis engkel atau truk dengan kabin ganda yang dimodifikasi untuk mengangkut dan menampilkan sistem audio yang besar dan bertenaga.
Keikutsertaan sound horeg pada karnaval sangat disetujui oleh bapak Yudan sebagai penikmat sound horeg. "Saya sangat setuju kalau sound horeg ikut di karnaval, jadi lebih menggelegar dan lebih asik lihat karnavalnya," katanya.
Berbeda dengan ibu Lely yang tidak setuju. "Saya tidak setuju pak, lebih baik karnaval seperti jaman dulu menggunakan sound secukupnya, malah dulu banyak yang menggunakan alat musik tradisional, seperti gamelan, atau angklung, kalau sound horeg ikut di karnaval, buat saya yang menonton karnaval saya sangat tidak setuju, karena di telinga bising dan didada rasanya deg degan," ujarnya.
Banyak daerah yang membatasi penggunaan sound system pada karnaval, bapak Bayu salah satu pengusaha persewaan sound sistem menuturkan dirinya siap saja memenuhi permintaan panitia karnaval. "Kalau kami pak siap -siap saja, jika acara itu menginginkan horeg ya saya layani, jika tidak ya kami sesuaikan, karena mereka yang memegang ijinnya, kalau memang menginginkan horeg kami malah senang, harga sewanya kan tentunya beda pak, kalau horeg tentu lebih mahal," tuturnya.
Seperti daerah yang lain di desa Dengkol Kecamatan Singosari Kabupaten Malang juga merayakan kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan, dari jalan sehat, lomba kebersihan lingkungan dan puncaknya adalah karnaval budaya, namun apakah didesa Dengkol ada pembatasan penggunaan sound system pada karnaval? Dan apakah di kabupaten Malang sudah ada peraturan yang dikeluarkan oleh Bupati Malang? Agus Efendi, Kepala Desa Dengkol kepada RRI menjelaskan jika di Desa Dengkol tidak menggunakan sound horeg para kernaval.
"Untuk edaran dari kebupaten Malang sejauh ini belum ada, tapi kami sendiri memiliki kebijakan sendiri, saya bersama perangkat desa Dengkol, sudah membentuk panitia dan kami membuat peraturan yang kami sesuaikan dengan keadaaan di wilayah kami, untuk karnaval kami sepakat menggunakan sound yang biasa saja, tidak sampai horeg," jelasnya.
Agus Efendi menambahkan, sudah menentukan aturan penggunaan sound sistem, diantaranya, maksimal dimensi 3x3 meter. "Jika ada peserta karnaval yang melebihi kami gugurkan keikut sertaannya, dan saya sendiri menghimbau kepada masyarakat desa Dengkol ini untuk tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk kenikmatan sesaat saja, ya kalau sewa sound horeg tentu lebih mahal, bisa sampai 50 juta hanya untuk sewa sound saja, mending dana sebesar itu digunakan untuk kegiatan yang lain yang lebih bermanfaat," jelasnya.
Pertunjukan karnaval harusnya dapat diminati semua orang, dari anak kecil hingga orang dewasa, karena karnaval adalah salah satu hiburan rakyat yang dinanti–nantikan, sebuah perayaan bukan berarti kegiatan yang bebas sebebas–bebasnya, kita juga harus memperhatikan hak orang lain yang mungkin menyaksikan karnaval.
Peringatan kemerdekaan negara kita tercinta Indonesia harusnya menjadi sarana pemersatu bangsa bukan malah memecah belah.