Ini Alasan Perempuan Sulit Keluar dari Relasi Toxic
- 14 Sep 2026 20:51 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Tidak semua perempuan yang berada dalam relasi toxic dapat dengan mudah memilih untuk pergi. Hubungan yang dipenuhi manipulasi, kekerasan emosional, atau perlakuan yang merendahkan sering kali justru membuat korban semakin sulit mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Hal tersebut dibahas dalam program Pengarusutamaan Gender RRI Makassar, Senin, 14 September 2026, bersama Novita Maulidya Jalal, M.Psi., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), yang dipandu host Risna Supratio. Menurut Novita, kondisi psikologis korban perlu dipahami sebelum masyarakat menilai mengapa seseorang masih bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.
Salah satu faktor utama adalah keterikatan emosional atau trauma bonding. Korban dapat terjebak dalam siklus perlakuan buruk, konflik, permintaan maaf, kemudian kembali mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari pasangan. “Ada siklus kekerasan, kemudian ada permintaan maaf dan fase honeymoon, sehingga korban kembali memiliki harapan bahwa pasangannya akan berubah,” jelas Novita.
Kesulitan juga semakin besar ketika korban mengalami manipulasi psikologis atau gaslighting. Pelaku dapat membuat korban mempertanyakan ingatan, persepsi, bahkan kondisi dirinya sendiri. “Ketika seseorang terus-menerus dibuat ragu terhadap apa yang dia rasakan dan pikirkan, lama-kelamaan kepercayaan dirinya bisa menurun,” ujar Novita. Kondisi tersebut membuat korban semakin sulit mempercayai kemampuan dirinya untuk mengambil keputusan.
Selain faktor psikologis, ketergantungan finansial dan sosial turut membuat perempuan bertahan. Ketika akses terhadap keluarga dan teman semakin terbatas, sementara kebutuhan ekonomi bergantung kepada pasangan, pilihan untuk keluar terasa semakin berat. “Ketika dukungan sosialnya sudah terputus dan secara finansial juga bergantung, korban akan merasa bahwa keluar dari hubungan itu bukan sesuatu yang mudah dilakukan,” kata Novita.
Stigma sosial dan rasa malu juga menjadi penghalang. Korban sering kali takut dianggap gagal mempertahankan rumah tangga atau khawatir mendapat penghakiman dari lingkungan. Di sisi lain, kekerasan verbal dan emosional yang berlangsung terus-menerus dapat menurunkan harga diri. “Korban bisa sampai merasa dirinya tidak berharga, tidak mampu, bahkan merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik,” tutur Novita.
Karena itu, Novita mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan perempuan yang masih bertahan dalam relasi toxic. Menurutnya, korban membutuhkan lingkungan yang aman dan orang-orang yang dapat memberikan dukungan tanpa menghakimi. “Yang dibutuhkan korban bukan pertanyaan kenapa tidak pergi, tetapi dukungan agar dia punya kekuatan dan pilihan untuk keluar dari situasi tersebut,” tegasnya.
Novita menambahkan, proses keluar dari relasi toxic tidak selalu berlangsung cepat dan dapat membutuhkan pendampingan. Dukungan keluarga, teman terpercaya, serta bantuan profesional dapat membantu korban membangun kembali rasa percaya diri dan mengambil keputusan yang lebih aman. Pesannya, memahami kondisi psikologis korban menjadi langkah penting agar perempuan tidak semakin terjebak, tetapi memiliki ruang untuk pulih dan membangun kembali kehidupan yang sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....