Bukan Faktor Alam, 90 Persen Karhutla di Sulsel Dipicu Kelalaian Manusia

  • 14 Sep 2026 19:41 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Sebagian besar kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan ternyata bukan disebabkan faktor alam. Kelalaian manusia dalam membuka dan membersihkan lahan menjadi penyebab utama. Fungsional Ahli Madya DLHK Sulawesi Selatan, Agung Ajmain S.Hut., M.Si., IPM,, menyebut tradisi tebas-bakar masih lazim dilakukan petani, terutama di lahan kering. Praktik ini dianggap paling praktis meski berisiko tinggi.

"Untuk tipe kebakaran hutan kita yang ada di Sulawesi Selatan, mungkin kalau kita perhatikan itu 90 persen diakibatkan oleh kelalaian manusia," kata Agung dalam Green Radio RRI Pro 1 Makassar, Minggu, 13 September 2026.

Ia menjelaskan hanya sekitar 10 persen kejadian yang benar-benar dipicu faktor alam. Sulawesi Selatan tidak memiliki lahan gambut sehingga potensi kebakaran alami relatif kecil.

Praktik pembakaran paling banyak terpantau pada petani lahan kering, khususnya petani jagung. Sisa batang dan daun jagung usai panen umumnya langsung dibakar untuk membersihkan lahan.

"Yang banyak terpantau biasanya dari kami itu petani-petani jagung yang pertanian lahan kering. Sisa panen jagungnya, sisa batang jagung dan juga daun jagungnya ketika sudah panen itu kebanyakan dibakar," ujar Agung.

Rendahnya edukasi pemanfaatan limbah pertanian turut memperparah kebiasaan ini. Padahal limbah panen seperti batang dan kulit jagung berpotensi diolah menjadi bahan baku kerajinan atau kompos.

Salah satu solusi yang ditawarkan DLHK adalah teknik dekomposisi menggunakan larutan penyemprot agar sisa tanaman cepat terurai secara alami. Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dibanding membakar.

"Merubah budaya, merubah kebiasaan masyarakat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan," ungkap Agung, menegaskan perlunya edukasi berkelanjutan bagi petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....