Cinta Luhur dalam Ajaran Buddha, Kasih tanpa Pamrih
- 10 Sep 2026 08:45 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Cinta luhur atau metta menjadi tema utama program Mimbar Agama Buddha RRI Pro 1 Makassar. Upasika Herlina Nyana Puspita menjelaskan bahwa kasih sayang sejati dalam ajaran Buddha jauh berbeda dari makna cinta yang selama ini dipahami kebanyakan orang.
Menurut Herlina, cinta luhur adalah kasih sayang tanpa pamrih yang dilandasi niat tulus. Ia mencontohkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sebagai gambaran paling mudah dipahami. Kasih semacam ini diberikan tanpa syarat dan tanpa harapan balasan di kemudian hari.
"Cinta luhur adalah kasih sayang tanpa pamrih yang dilakukan dengan niat tulus, seperti kasih seorang ibu yang merawat anaknya tanpa pernah meminta balasan kelak," ujar Herlina Nyana Puspita. Rabu, 9 September 2026.
Ia lalu memaparkan empat sifat luhur atau Brahma Vihara dalam ajaran Buddha, yakni metta, karuna, mudita, dan upekkha. Metta merupakan cinta kasih universal, karuna adalah keinginan menolong makhluk yang menderita, mudita adalah rasa turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain, sementara upekkha adalah keseimbangan batin.
Herlina menjelaskan bahwa keseimbangan batin justru menjadi tantangan tersendiri, terutama saat seseorang menerima pujian. Ia mengingatkan bahwa pujian berlebihan berpotensi membuat seseorang lupa diri, berbeda dengan kritik yang justru bisa menjadi bahan introspeksi.
"Justru yang paling berbahaya itu ketika kita dipuji, karena kita terbawa pikiran sendiri dan lupa untuk introspeksi diri," ujar Herlina.
Ia menegaskan bahwa cinta yang melekat atau posesif sesungguhnya berbeda dengan cinta luhur. Cinta yang menuntut kepemilikan dan balasan, menurutnya, lebih dekat pada wujud ego yang berkembang menjadi obsesi. Hubungan yang dilandasi tuntutan semacam itu cenderung bersifat transaksional.
Herlina merujuk pada Karaniya Metta Sutta yang mengajarkan umat Buddha menebar cinta kasih kepada seluruh makhluk, termasuk kepada mereka yang membenci. Ia mengutip sabda Buddha dalam Dhammapada bahwa kebencian hanya bisa reda oleh cinta kasih, bukan oleh kebencian yang dibalas kebencian.
"Kebencian tidak akan pernah reda apabila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan reda apabila dibalas dengan cinta kasih," ujar Herlina Nyana Puspita mengutip sabda Buddha dalam Dhammapada.
Di akhir siaran, Herlina mengajak pendengar membiasakan diri melafalkan doa metta "Sabbe satta bhavantu sukhitatta" atau semoga semua makhluk berbahagia, kapan pun dan di mana pun berada. Ia meyakini praktik sederhana itu, jika dilakukan berulang, mampu menekan ego dan menumbuhkan cinta luhur secara bertahap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....