Kekeringan Ancam Pertanian di Sulsel, Petani Diminta Siaga

  • 08 Sep 2026 21:56 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Ancaman kekeringan akibat perubahan iklim dan fenomena El Nino menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian Sulawesi Selatan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu ketersediaan air bagi tanaman, tetapi juga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan produktivitas pertanian.

Kepala UPT BPTPH Dinas TPHBUN Sulawesi Selatan, Muhammad Anwar, mengatakan kekeringan telah terjadi di 24 kabupaten/kota di Sulsel, baik wilayah barat, timur maupun daerah peralihan. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dampak kekeringan sangat bergantung pada lama dan tingkat kekurangan air di masing-masing wilayah. “Kita melakukan pemantauan di seluruh wilayah untuk mengetahui kondisi pertanaman dan luas lahan yang terdampak kekeringan,” jelas Anwar.

Selain kekurangan air, peningkatan suhu dan kondisi lahan yang kering turut meningkatkan risiko serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Sejumlah hama dan penyakit yang perlu diwaspadai petani antara lain penggerek batang, tikus, dan tungro. Anwar menjelaskan, perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi perkembangan OPT sehingga pengamatan tanaman harus dilakukan secara rutin.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, petugas Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) terus melakukan pemantauan di lapangan. Petugas mendata kondisi dan luas lahan terdampak, mengidentifikasi serangan hama maupun penyakit, serta berkoordinasi dengan penyuluh dan pemerintah. “Petugas POPT berada di lapangan untuk melakukan pengamatan, pendataan dan memberikan informasi terkait kondisi tanaman serta serangan OPT,” kata Anwar.

Pemerintah Sulsel juga melakukan inventarisasi wilayah terdampak sebagai dasar penyaluran bantuan. Dukungan yang disiapkan antara lain pompa air serta pembangunan sumur bor dan sumur dangkal untuk membantu memenuhi kebutuhan air pada lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Menurut Anwar, data lapangan menjadi penting agar bantuan pengairan dapat diarahkan kepada wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Anwar mengimbau petani tidak panik dan memperkuat koordinasi dengan penyuluh maupun petugas pertanian. “Petani jangan panik, tetapi harus berkolaborasi dengan penyuluh dan petugas di lapangan. Kondisi lahan harus terus dipantau sehingga ketika ada gangguan bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya. Petani juga diminta memperhatikan kondisi saluran irigasi dan segera melaporkan apabila terjadi persoalan yang menghambat pasokan air.

Selain penanganan jangka pendek, normalisasi dan pemeliharaan saluran irigasi dinilai penting untuk menghadapi ancaman kekeringan di masa mendatang. Anwar menilai kolaborasi pemerintah, petugas pertanian, penyuluh, dan petani menjadi kunci menjaga ketersediaan air, mengendalikan serangan OPT, serta mempertahankan produksi pangan Sulawesi Selatan di tengah perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....