Bukan Sekadar Pasokan, Ini Penyebab LPG 3 Kg Mulai Langka di Maros
- 08 Sep 2026 14:14 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros - Kelangkaan LPG bersubsidi ukuran tiga kilogram mulai dirasakan masyarakat di Kabupaten Maros. Pemerintah daerah kini menelusuri berbagai faktor yang diduga menyebabkan pasokan LPG tersendat, mulai dari kendala distribusi hingga meningkatnya permintaan akibat musim kemarau panjang. Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Maros, Andi Sam Sophyan, mengatakan pihaknya akan memanggil seluruh agen LPG yang beroperasi di wilayah Maros untuk membahas persoalan tersebut.
Menurutnya, terdapat sekitar 12 hingga 13 agen LPG di Kabupaten Maros yang akan dikumpulkan untuk mendapatkan informasi langsung mengenai kondisi pasokan dan distribusi di lapangan. “Hari ini kita akan panggil semua agen. Ada 12 atau 13 agen di Kabupaten Maros. Kita panggil terkait kelangkaan,” ujar Andi Sam Sophyan di kantornya usai rapat dengan para agen elpiji di Maros, Senin 7 September 2026.
Distribusi Terkendala Solar
Dari hasil pemantauan sementara, salah satu faktor yang diduga ikut memengaruhi keterlambatan pasokan LPG adalah kendala bahan bakar untuk armada pengangkut. Andi Sam mengatakan antrean pembelian Solar membuat kendaraan pengangkut membutuhkan waktu lebih lama untuk mendistribusikan LPG menuju agen maupun pangkalan. “Armada agak sulit kalau Solar kita antre. Maka terlambat juga pendistribusian ke agen-agen sehingga memakan waktu,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi persoalan karena kebutuhan masyarakat tetap berjalan, sementara LPG yang seharusnya tiba di agen mengalami keterlambatan. Pemerintah daerah juga akan meminta kepastian kepada agen mengenai informasi adanya pengurangan pasokan LPG dari pihak Pertamina. “Kita mau tanya kepada agen, apakah memang ada pengurangan setiap agen dari pihak Pertamina. Hasil rapat nanti akan menjadi bahan yang kita bawa ke pihak Pertamina,” jelasnya.
Kuota LPG Disebut Berkurang
Dalam rapat bersama para agen, Koperindag Maros mendapatkan informasi bahwa secara nasional terjadi pengurangan alokasi LPG. Andi Sam menyebut alokasi pada 2025 berada di angka sekitar 8,54 MT, sedangkan saat ini disebut tersisa sekitar 8 MT. Pengurangan tersebut kemudian berhadapan dengan meningkatnya permintaan LPG di sejumlah sektor. Salah satunya terjadi di tingkat pangkalan yang mengalami peningkatan permintaan dari masyarakat.
Petani Beralih dari Solar ke LPG
Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah meningkatnya penggunaan LPG oleh petani selama musim kemarau. Kemarau panjang membuat kebutuhan pompa air untuk mengairi sawah meningkat. Persoalannya, sebagian pompa yang sebelumnya menggunakan Solar disebut mulai beralih menggunakan gas. “Petani ini terpengaruh musim kemarau. Penggunaan pompa untuk air mengairi sawah tentu lebih meningkat,” kata Andi Sam Sophyan.
Ia menilai peralihan tersebut perlu dicermati karena berpotensi membuat kebutuhan LPG meningkat di luar perhitungan sebelumnya. Menurutnya, bisa saja jumlah pompa yang menggunakan LPG bertambah, tetapi data yang dimiliki instansi terkait belum diperbarui. “Jangan sampai di sektor pertanian tidak ada datanya. Ada data, tetapi data lama,” ujarnya.
Ia mencontohkan, apabila sebelumnya hanya sekitar 100 pompa yang menggunakan LPG, jumlah tersebut bisa bertambah karena masyarakat mengubah mesin pompanya dari penggunaan Solar menjadi gas. Perubahan tersebut, kata dia, harus diikuti dengan pembaruan data agar pemerintah dapat menghitung kebutuhan LPG secara lebih akurat.
Pembelian LPG dalam Jumlah Banyak
Kenaikan permintaan juga terjadi di tingkat rumah tangga. Andi Sam mengatakan terdapat rumah tangga yang menyimpan tiga hingga lima tabung LPG sekaligus karena khawatir kembali mengalami kesulitan mendapatkan gas. Kondisi tersebut justru berpotensi mempercepat habisnya stok di pangkalan. “Karena melihat selalu langka, sekali membeli langsung lima. Ada yang langsung tiga. Ini yang perlu diperhatikan pihak pangkalan dan pengecer,” katanya.
Untuk sementara, pemerintah mempertimbangkan perlunya pembatasan pembelian dalam jumlah besar di tingkat rumah tangga. Masyarakat yang tidak memiliki kebutuhan mendesak diharapkan cukup membeli satu tabung terlebih dahulu. Menurut Andi Sam, jika satu rumah tangga membeli lima tabung sekaligus, maka empat tabung lainnya berpotensi mengurangi kesempatan warga lain memperoleh LPG.
Satgas Akan Dilibatkan
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, Koperindag Maros mendorong pembentukan tim satuan tugas atau satgas yang dapat melakukan pengawasan langsung di lapangan. Pengawasan diharapkan tidak hanya dilakukan terhadap pangkalan, tetapi juga melihat siapa saja yang menggunakan LPG bersubsidi dan bagaimana pola distribusinya. Menurut Andi Sam, apabila kebocoran penggunaan LPG dapat ditekan, tingkat kelangkaan di masyarakat setidaknya dapat dikurangi.
“Minimal ada pengurangan. Kalau misalnya 80 persen, kelangkaan bisa menjadi 75 persen. Syukur-syukur begitu,” ujarnya.
Kemarau Panjang Memperberat Tekanan
Pemerintah daerah menilai persoalan LPG tahun ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi cuaca. Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap LPG, terutama untuk kebutuhan pertanian. Kemarau ekstrem dan fenomena El Nino disebut turut memberikan tekanan terhadap berbagai kebutuhan masyarakat.
“Musim kemarau kita sekarang ini berbeda dengan musim kemarau tahun lalu, dua tahun lalu. Ini lebih panjang, terus ada El Nino dan sebagainya. Lebih ekstrem sehingga mempengaruhi semua,” kata Andi Sam.
Antrean di SPBE
Selain persoalan armada dan peningkatan permintaan, Koperindag Maros juga menerima informasi adanya antrean di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji atau SPBE. SPBE merupakan fasilitas tempat pengisian LPG sebelum didistribusikan melalui agen. Menurut Andi Sam, antrean di SPBE turut menjadi salah satu mata rantai yang perlu ditelusuri karena dapat memengaruhi kecepatan pasokan LPG hingga ke tingkat agen dan pangkalan.
Karena itu, pemerintah daerah berencana menyampaikan sejumlah surat kepada pihak terkait untuk menindaklanjuti persoalan distribusi tersebut. Koperindag Maros kini menunggu hasil pertemuan dengan seluruh agen untuk memetakan persoalan secara menyeluruh. Hasil pertemuan itu nantinya akan menjadi bahan koordinasi dengan Pertamina, termasuk memastikan apakah benar terjadi pengurangan alokasi, apa penyebab keterlambatan distribusi, serta bagaimana langkah yang dapat dilakukan agar pasokan LPG 3 kilogram kembali normal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....