Busana Jadi Media Pelestarian Budaya Lokal di tengah Perkembangan Mode
- 08 Sep 2026 08:56 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Busana tidak hanya menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya daerah. Penggunaan unsur budaya lokal dalam busana dinilai mampu mendekatkan warisan budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Amriany Achmad - Owner Amy_collection17 dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar, edisi Minggu, 6 September 2026, mengatakan budaya daerah penting untuk terus diperkenalkan melalui busana karena pakaian memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, budaya tidak seharusnya hanya disimpan dan ditampilkan sebagai koleksi di museum, tetapi juga perlu dikembangkan agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Dengan para penenun sekarang, kita bisa berkolaborasi menciptakan motif-motif baru. Kemudian kita berinovasi, tetapi tanpa menghilangkan filosofi dari motif tersebut,” ujarnya.
Amriany atau biasa disapa Amy menjelaskan, sejumlah motif yang digunakan dalam karyanya memiliki makna dan filosofi tertentu. Salah satunya adalah motif jijir yang menggambarkan ketangguhan, keberanian, dan keuletan.
Menurut Amy, pengembangan busana berbasis budaya tetap dapat mengikuti perkembangan mode tanpa menghilangkan nilai tradisional yang terkandung di dalamnya. Kolaborasi antara motif tenun dengan desain modern menjadi salah satu cara agar busana tradisional lebih mudah diterima oleh generasi muda. “Ketika unsur budaya dikemas dengan desain modern, anak muda akan lebih menyukai budaya tersebut. Motifnya dibuat lebih modern dan mengikuti tren yang disukai anak muda, tetapi tetap menyisipkan tenun dalam setiap busana", jelasnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Amy adalah busana dengan konsep motif bolak-balik. Dalam satu pakaian terdapat dua motif berbeda yang dapat digunakan dengan cara membalik bagian busana, sehingga menghasilkan tampilan yang berbeda. Ia mencontohkan salah satu karyanya yang memadukan motif lagosi dengan motif corak la’ba. Dengan konsep tersebut, satu busana dapat digunakan untuk berbagai suasana dan acara tanpa harus mengganti pakaian. Dari sisi harga, busana yang diproduksi Amy memiliki kisaran harga mulai dari Rp350 ribu hingga Rp7,5 juta, tergantung jenis bahan dan jumlah tenun yang digunakan. Semakin banyak unsur tenun yang diaplikasikan, harga busana juga semakin tinggi.
Dalam menjalankan produksinya, Amy saat ini dibantu oleh empat orang tenaga kerja. Tim tersebut membantu proses produksi, sementara pengelolaan media sosial masih dilakukan secara mandiri. Untuk menentukan tema dan motif busana, Amy bersama tim biasanya melakukan diskusi, terutama ketika akan mengikuti peragaan busana. Mereka mempertimbangkan tema acara, tren yang sedang berkembang, serta motif yang dinilai sesuai dengan konsep yang ingin ditampilkan.
Amy juga aktif mengikuti berbagai kegiatan dan peragaan busana yang mengangkat kain tradisional. Ia tergabung dalam komunitas desainer yang bergerak dalam pengolahan wastra sebagai bagian dari upaya mengembangkan dan memperkenalkan warisan budaya.
Dalam proses produksi, Amy tidak hanya bekerja sama dengan penenun, tetapi juga dengan pengumpul kain dari sejumlah daerah, termasuk Toraja. Kolaborasi tersebut kemudian mempertemukan penenun, pengumpul kain, penjahit, dan desainer untuk menghasilkan karya busana yang memiliki nilai budaya sekaligus mengikuti perkembangan mode. “Dari situlah kita bekerja sama dan akhirnya terjadi kolaborasi antara penenun, penjahit, dan desainer hingga menjadi suatu karya”, katanya.
Dalam setiap karyanya, ia tetap berupaya membawa identitas budaya lokal dengan menggunakan motif yang merepresentasikan kekayaan budaya Sulawesi Selatan. “Dengan beberapa desain dan motif, saya tetap ingin memperkenalkan bahwa Makassar itu cantik”, pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....