Kekeringan El Nino Mengancam Keandalan Listrik Sulawesi Selatan

  • 02 Sep 2026 14:56 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Fenomena El Nino yang melanda wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya kini mulai berdampak nyata terhadap pasokan listrik masyarakat. Kebijakan pemadaman listrik bergilir yang merata dalam beberapa hari terakhir memicu keprihatinan luas dari kalangan akademisi dan praktisi ketenagalistrikan.

Pakar Ketenagalistrikan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Salama Manjang, dalam Program Makassar Menyapa Pagi Pro 1 RRI Makassar menegaskan bahwa listrik merupakan infrastruktur vital yang menjadi lokomotif utama seluruh aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat yang tidak boleh terganggu. "Memang listrik ini boleh dikatakan suatu infrastruktur yang menjadi lokomotif dari semua kehidupan ini, karena kalau listrik tidak ada, hampir semua kegiatan ekonomi maupun kehidupan lainnya akan sangat terganggu," tegas Prof. Salama.

Dikatakan, secara teoritis sistem kelistrikan Sulselrabar seharusnya memiliki cadangan daya (reserve margin) minimal 30 persen untuk menjamin keandalan. Dengan daya mampu sistem yang berada di kisaran 1.900 hingga 2.000 Megawatt (MW).

Pemeliharaan salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) IPP di Jeneponto sebesar 150 MW seharusnya masih bisa ditopang oleh cadangan sistem yang mencapai 300 hingga 350 MW. Oleh karena itu, beliau mengimbau agar evaluasi dilakukan secara menyeluruh terhadap koordinasi lintas lini manajemen kelistrikan.

Lebih lanjut, Prof. Salama menjelaskan bahwa struktur ketenagalistrikan di Sulawesi Selatan memiliki kompleksitas keteknikan yang sangat tinggi karena melibatkan berbagai unit kerja dan pengelola pembangkit. Mulai dari unit penyaluran distribusi (PLN UID) yang berhadapan langsung dengan konsumen, unit pengatur beban dan transmisi (UIP3B), hingga konsorsium pembangkit seperti PT PLN Indonesia Power dan PT PLN Nusantara Power. Rabu, 2 September 2026.

Terkait komposisi pembangkit, Sulawesi Selatan sebenarnya diuntungkan oleh skema mix generation atau campuran berbagai jenis sumber energi. Wilayah ini mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) seperti Bakaru (126 MW), Malea (90 MW), Bili-Bili (20 MW), serta pasokan beban puncak dari Poso hingga 515 MW. Secara keseluruhan, PLTA menyumbang sekitar 37 persen atau sekitar 750 MW dari total kapasitas pasokan energi listrik daerah.

Ketergantungan yang cukup besar pada sumber daya air ini, diakui menjadi titik lemah utama saat kemarau panjang akibat El Nino mulai memuncak. Prof. Salama mengkhawatirkan kondisi kelistrikan akan semakin parah jika kekeringan berlanjut hingga satu bulan ke depan.

Untuk mengantisipasi ancaman krisis energi yang lebih parah, Prof. Salama meminta manajemen PLN bergerak cepat menyelesaikan seluruh agenda pemeliharaan pembangkit sebelum puncak kemarau tiba. Mitigasi berbasis pengalaman tahun-tahun sebelumnya harus diterapkan agar pembangkit termal (gas dan uap) dapat beroperasi optimal tanpa gangguan teknis. Kesiapan seluruh komponen cadangan menjadi kunci utama agar masyarakat Sulsel tidak kembali mengalami pemadaman listrik berkepanjangan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....