Krisis Energi Sulsel, Pakar Minta Industri Bantu Pasokan PLN
- 02 Sep 2026 18:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Pemadaman listrik bergilir yang melanda wilayah Sulawesi Selatan tidak hanya mengganggu aktivitas publik dan sektor usaha, tetapi juga memicu kritik terkait manajemen mitigasi bencana musiman. Di tengah terik matahari ekstrem akibat El Nino, langkah pengalihan strategi energi terbarukan dan kerja sama sektor industri kini menjadi kebutuhan mendesak.
Pakar Ketenagalistrikan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Salama Manjang, dalam Program Makassar Menyapa Pagi Pro 1 RRI Makassar pada Rabu, 2 September 2026 menceritakan pengalaman pribadi terkait dampak langsung pemadaman listrik pada sektor pendidikan. Prof. Salama mengungkapkan bahwa aktivitas perkuliahan di kampus sempat terhenti total akibat fasilitas pendukung pembelajaran mati mendadak.
"Saya sendiri kemarin di kampus berhenti mengajar karena tidak ada LCD yang bisa menyala dan AC mati, anak-anak tidak bisa belajar dengan baik dan gelisah. Ini sangat berisiko," ungkap Prof. Salama.
Kondisi ini memicu keprihatinan publik mengenai sejauh mana perencanaan antisipasi yang dilakukan oleh penyedia layanan listrik nasional. Prof. Salama menyayangkan jika pemeliharaan pembangkit justru dilakukan di saat musim kemarau telah berjalan, padahal seharusnya pengerjaan tersebut dirampungkan lebih awal sebelum dampak kekeringan meluas.
Sebagai solusi teknis, Prof. Salama mendorong pemerintah dan PLN untuk memanfaatkan momentum musim kemarau ini dengan mengoptimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal. Sinar matahari yang sangat terik selama kemarau merupakan potensi besar yang dapat langsung dikonversi menjadi energi listrik untuk mengover penyusutan kapasitas PLTA.
Meski demikian, pengoperasian pembangkit termal seperti PLTU dan PLTG berbasis minyak bumi atau batu bara secara maksimal juga memicu konsekuensi finansial yang berat. Kenaikan harga bahan bakar fosil di pasar global akan membengkakkan biaya operasional PLN secara signifikan saat mengalihkan beban dari PLTA ke pembangkit termal. Oleh karena itu, efisiensi pengelolaan anggaran bahan bakar menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola kelistrikan.
Prof. Salama mengusulkan strategi kolaboratif dengan memanfaatkan pembangkit mandiri atau captive power yang dimiliki oleh industri-industri besar di Sulawesi Selatan. Langkah ini penting agar beban pemadaman tidak selalu ditimpakan kepada pelanggan rumah tangga dan fasilitas publik.
"Jadi saya harap itu captive power yang dimiliki oleh industri-industri besar itu bisa diimbau untuk membantu PLN ya, supaya dia bisa mengaktifkan ya. Sehingga tidak mesti harus masyarakat selalu dikorbankan untuk pemadaman bergilir. tegas Prof. Salama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....