Mahasiswa Disabilitas Tunanetra di Makassar Dibekali Kesiapan Kerja
- 30 Agt 2026 11:10 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Memiliki ijazah perguruan tinggi ternyata belum cukup menjadi bekal untuk menembus dunia kerja. Kompetensi, kemampuan beradaptasi, komunikasi hingga kesiapan menghadapi proses rekrutmen menjadi modal penting, termasuk bagi lulusan penyandang Disabilitas tunanetra.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Yayasan Mitra Netra melalui Sesi Orientasi Dunia Kerja dan Karier untuk Mahasiswa Tunanetra bertajuk “Lebih Siap, Lebih Baik”. Kegiatan ini dirancang untuk membantu mahasiswa dan lulusan baru penyandang Disabilitas memahami kondisi nyata dunia kerja sebelum masuk ke sektor formal.
Kegiatan berlangsung selama dua hari, 29-30 Agustus 2026, di Ruang Inspirasi Hotel Unhas Makassar. Sebanyak 25 mahasiswa dan lulusan baru tunanetra dari sejumlah perguruan tinggi di Makassar ikut dalam kegiatan tersebut, “dua hari ini kami menyelenggarakan sesi orientasi dunia kerja untuk mahasiswa tunanetra dan tunanetra yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi sebagai fase menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mereka tentang situasi di dunia kerja,” jelas Job Coach sekaligus Kepala Bagian Program Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati, Sabtu 29 Agustus 2026.
Peserta kegiatan berasal dari Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Muslim Indonesia. Kehadiran peserta dari berbagai kampus tersebut menunjukkan kebutuhan persiapan kerja bagi mahasiswa Disabilitas tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga kesiapan menghadapi persaingan di sektor formal.
Aria Indrawati menekankan bahwa mahasiswa tunanetra perlu memahami adanya perbedaan tuntutan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja. Salah satu hal yang perlu disiapkan adalah kemampuan memenuhi persyaratan serta kompetensi yang ditentukan dalam setiap lowongan pekerjaan, “kalau kita mau melamar pekerjaan, ada job requirement-nya dan itu harus dipenuhi, ada kompetensi dan itu harus dipenuhi,” tuturnya.
Menurut Aria, peserta perlu mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki sekaligus mengidentifikasi kompetensi yang masih kurang. Kesadaran tersebut kemudian diharapkan dapat mendorong mahasiswa Disabilitas membuat rencana aksi untuk memperkecil kesenjangan kompetensi sebelum memasuki proses rekrutmen.
Mitra Netra juga tengah mendorong terbentuknya ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif di Makassar. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan kepada pencari kerja tunanetra, tetapi juga kepada perusahaan agar semakin memahami potensi pekerja penyandang Disabilitas, “tunanetra harus kompeten, kedua employer atau pemberi kerja mau membuka diri terhadap hadirnya karyawan tunanetra,” kata Aria.
Aria menegaskan bahwa proses seleksi pekerjaan seharusnya dilakukan secara profesional berdasarkan kompetensi kandidat. Menurutnya, penolakan karena seseorang tidak memenuhi persyaratan pekerjaan dapat diterima, tetapi bukan karena statusnya sebagai penyandang Disabilitas tunanetra, “ditolak karena tidak kompeten tidak masalah, tetapi jangan ditolak karena mereka disabilitas netra, harus dites dulu sebelum ditolak,” tegasnya.
Untuk mempertemukan pencari kerja dengan dunia usaha, Mitra Netra berencana mendorong pembentukan Makassar Employment Forum for the Blind bersama Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara perusahaan dan pencari kerja tunanetra sekaligus membuka dialog mengenai kebutuhan serta peluang kerja bagi penyandang Disabilitas, “kami berharap bisa bekerja sama dengan Disnaker Kota Makassar untuk mengadakan Makassar Employment Forum for the Blind,” katanya.
Selain forum ketenagakerjaan, Mitra Netra juga mendorong penempatan kerja melalui skema one-on-one job placement maupun job fair khusus tunanetra. Langkah ini diharapkan membuat proses persiapan kerja tidak berhenti pada orientasi, tetapi berlanjut hingga peserta memperoleh kesempatan untuk masuk ke dunia profesional.
Pembekalan selama kegiatan juga mencakup penyusunan curriculum vitae atau CV, personal branding, komunikasi dan persiapan menghadapi wawancara kerja. Fasilitator Pre Employment Soft Skill Training Mitra Netra, Arya Putra Bagaskara, turut memberikan pemahaman mengenai cara membuat CV yang menarik dan relevan dengan kebutuhan perekrutan tanpa menghilangkan kemampuan serta pengalaman peserta yang sebenarnya.
Peserta juga mendapat gambaran langsung mengenai perjalanan karier penyandang tunanetra melalui sesi berbagi pengalaman bersama Ismail Naharuddin. Ia merupakan penyandang tunanetra yang kini berkarier sebagai ASN dengan jabatan Pranata Humas Ahli Pertama di Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kota Makassar, Kementerian Kesehatan RI, “pengalaman proses perekrutan hingga berkarier sebagai ASN menjadi bagian penting untuk memberikan perspektif nyata kepada peserta,” demikian pengalaman yang dibagikan dalam kegiatan tersebut.
Perspektif perusahaan juga dihadirkan melalui perwakilan HRD perusahaan swasta yang memberikan gambaran mengenai proses perekrutan tenaga kerja. Keterlibatan pihak kampus dinilai tidak kalah penting karena perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mengantarkan mahasiswa Disabilitas sampai memperoleh ijazah, tetapi juga membantu mereka melewati masa transisi menuju dunia kerja.
Aria berharap Unit Layanan Disabilitas di perguruan tinggi dapat berkolaborasi dengan pusat karier kampus untuk membuat program persiapan kerja yang turut menyasar mahasiswa penyandang Disabilitas. Menurutnya, proses transisi dari pendidikan tinggi menuju pekerjaan perlu menjadi bagian dari dukungan kampus, “unit universitas yang mengembangkan program karier atau transisi from higher education to employment perlu menyasar mahasiswa penyandang disabilitas, termasuk disabilitas netra,” jelasnya.
Aria menegaskan bahwa gelar sarjana belum otomatis membuat seseorang siap bersaing dalam dunia kerja. Lulusan tetap harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan sekaligus mampu menunjukkan potensi dirinya, “memiliki ijazah sarjana belum otomatis menjamin seseorang dapat bersaing dalam dunia kerja,” tegasnya.
Kepala Unit Layanan Disabilitas (ULD) Universitas Hasanuddin, Dr. Ishak Salim, mengatakan Unhas memiliki komitmen untuk terus membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. Menurutnya, penyandang Disabilitas tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi harus dilihat sebagai individu yang mempunyai kemampuan dan potensi untuk berkembang, “penyandang disabilitas tidak semestinya dipandang sebagai objek bantuan atau orang yang tidak mampu,” ungkapnya.
Ishak menilai keberagaman Disabilitas justru dapat menjadi sumber munculnya inovasi dalam menciptakan lingkungan yang lebih mudah diakses semua orang. Karena itu, inklusivitas menurutnya tidak cukup hanya diwujudkan melalui fasilitas fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek nonfisik dan digital.
Ia mencontohkan akses informasi yang dapat diperkuat melalui berbagai fasilitas seperti running text dan closed caption. Upaya tersebut menjadi bagian dari cara memastikan mahasiswa Disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam mengikuti proses pembelajaran maupun aktivitas kampus, “aksesibilitas harus mencakup aspek fisik, nonfisik hingga digital,” katanya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan Unhas melalui penyediaan ruang-ruang yang mendukung aktivitas bersama mahasiswa dengan berbagai kondisi. Ishak menyebut sudut inklusif dan taman inklusif sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kampus yang tidak berhenti pada slogan, “kampus ini tidak sekadar menggunakan jargon inklusi disabilitas, tetapi juga menyediakan ruang-ruang yang memungkinkan mahasiswa untuk belajar dan beraktivitas bersama,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....