Kulit Buah Sisa Produksi Es Teler Disulap Faridah Jadi Ekoenzim

  • 22 Agt 2026 20:36 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pemanfaatan kulit sisa buah dari produksi es teler menjadi salah satu upaya untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat. Salah satunya dilakukan dengan mengolah sisa kulit buah menjadi ekoenzim melalui proses fermentasi.

Faridah Fakhriyah - Owner Es Teler Aja dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar, edisi Jumat, 22 Agustus 2026. Menjelaskan, pembuatan ekoenzim menggunakan perbandingan 1:3:10, yaitu satu bagian gula merah, tiga bagian kulit buah, dan sepuluh bagianPr air. Kulit buah yang digunakan cukup beragam, seperti kulit buah naga, pepaya, semangka, dan pisang.

“Untuk membuat ekoenzim, perbandingannya 1:3:10, yaitu satu bagian gula merah, tiga kilogram kulit buah, dan sepuluh liter air. Kulit buah yang digunakan bisa berasal dari buah naga, pepaya, semangka, pisang, dan berbagai jenis buah lainnya”, jelasnya.

Pada awalnya, kulit buah yang telah dikumpulkan hanya diletakkan di luar ruangan. Namun, cara tersebut menimbulkan bau dan membuat kulit buah lebih mudah membusuk. Karena itu, kini kulit buah yang akan digunakan untuk pembuatan ekoenzim terlebih dahulu disimpan di dalam freezer. Kulit buah dikemas menggunakan plastik sebelum dimasukkan ke dalam freezer rumah tangga. Cara tersebut dapat membantu menjaga kondisi kulit buah selama proses pengumpulan.

“Dulu kulit buah saya letakkan di luar dekat wastafel, tetapi karena membutuhkan waktu cukup lama, kulit buah menjadi berbau dan mudah membusuk. Sekarang saya simpan di dalam plastik kemudian dimasukkan ke freezer. Biasanya bisa disimpan sampai sekitar dua minggu", ungkapnya.

Faridah mengaku, pada tahap awal pembuatan eco-enzim, dirinya masih menghadapi berbagai kendala karena belum memiliki pengalaman. Proses belajar dilakukan secara mandiri melalui berbagai tutorial di Youtube serta bertanya kepada komunitas di media sosial ketika menemukan kendala dalam proses fermentasi. “Saat pertama kali membuat ekoenzim, saya belum tahu cara menyimpan kulit buah dengan benar sehingga kulit buah sempat membusuk. Sekarang saya sudah membuat sekitar lima galon ekoenzim", katanya.

Proses fermentasi ekoenzim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Selama proses tersebut, mikroorganisme akan menguraikan bahan organik di dalam wadah dan menghasilkan gas. Oleh karena itu, pada bulan pertama, wadah perlu diperhatikan dan dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi.

Pada dua minggu pertama, ia juga tidak menutup wadah terlalu rapat dan menggunakan kantong sebagai pelindung agar lalat tidak masuk ke dalam wadah fermentasi. Kebersihan menjadi salah satu hal penting agar proses fermentasi berlangsung dengan baik dan menghasilkan ekoenzim yang dapat dimanfaatkan.

“Selama fermentasi, mikroba akan menguraikan bahan di dalamnya dan menghasilkan gas. Karena itu, pada bulan pertama saya cukup sering membuka tutup galon untuk mengeluarkan gas. Kebersihan juga harus dijaga agar hasil fermentasinya bagus", jelasnya.

Ekoenzim yang dihasilkan dari proses tersebut nantinya direncanakan akan dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan sabun cuci pakaian. Karena proses fermentasi membutuhkan waktu tiga bulan, ekoenzim yang dibuat pada Juni 2026 baru akan dipanen sekitar September 2026. “Rencananya ekoenzim ini akan saya manfaatkan untuk membuat sabun cuci pakaian. Setelah tiga bulan, kulit buahnya akan disaring dan air hasil fermentasinya yang digunakan sebagai bahan dalam pembuatan sabun”, ujar Farida.

Pemanfaatan kulit buah menjadi ekoenzim tersebut diharapkan dapat mengurangi limbah dari aktivitas produksi es teler sekaligus menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai guna dan berpotensi dikembangkan menjadi produk rumah tangga. Inovasi ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....