Kepedulian pada Sesama Jadi Kunci Merdeka dari Depresi

  • 09 Agt 2026 18:04 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kepekaan terhadap perubahan sikap orang terdekat disebut menjadi langkah penting mencegah depresi berlarut-larut. Psikiater sekaligus rohaniwan Konghucu mengingatkan masyarakat untuk tidak buru-buru menilai orang yang tiba-tiba menarik diri sebagai pemalas.

Hal itu mengemuka dalam dialog Mimbar Agama Konghucu bertema Kemerdekaan Jiwa Raga: Insan Beriman yang Merdeka dari Depresi bersama narasumber Js. dr. Erwiani, Sp.KJ, yang disiarkan langsung dari studio RRI Pro 1 Makassar pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Ia mengangkat ajaran Konghucu bahwa di empat penjuru lautan semua manusia bersaudara, yang menurutnya mengandung makna mendalam berupa kepedulian dan kesediaan menjadi penopang bagi sesama yang sedang kesulitan.

Erwiani mencontohkan kondisi yang kerap luput dari perhatian keluarga, misalnya seseorang yang dulunya ceria tiba-tiba lebih banyak mengurung diri di kamar dan kehilangan minat pada hobinya selama berminggu-minggu. Ia mengingatkan bahwa reaksi pertama keluarga semestinya mencari tahu penyebabnya, bukan langsung menghakimi.

"Kita tidak bisa langsung menganggap seseorang yang tiba-tiba menjadi pendiam atau mengurung diri di kamar itu pemalas. Jangan-jangan dia bukan malas, tetapi memang sedang tidak punya minat dan energi untuk beraktivitas," ujar Erwiani, sebagaimana disampaikan dalam siaran Mimbar Agama Konghucu RRI Pro 1 Makassar.

Ia menuturkan, banyak pasiennya justru merasa tidak dipahami ketika keluarga menyebut mereka pemalas, padahal yang dialami adalah gejala depresi berupa hilangnya energi dan semangat hidup. Menurutnya, ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi sangat menentukan apakah seseorang berani membuka masalah yang dipendamnya.

Erwiani menekankan bahwa kehadiran sederhana lebih berarti daripada bantuan materi bagi orang yang sedang berjuang melawan depresi. Ia mengajak pendengar untuk aktif menawarkan diri sebagai tempat bercerita bagi keluarga, sahabat, maupun kerabat yang mulai menunjukkan tanda-tanda menarik diri.

"Kehadiran kita tidak perlu selalu berupa bantuan materi. Cukup dengan mengatakan saya ada di sini untuk mendengar, atau saya siap dihubungi kapan pun, itu sudah menjadi sesuatu yang sangat melegakan bagi orang yang sedang mengalami depresi," katanya.

Secara medis, Erwiani menjelaskan bahwa kepedulian antarsesama memicu pelepasan hormon oksitosin atau hormon cinta yang menguatkan ikatan emosional, serta dopamin yang menimbulkan rasa bahagia dan motivasi untuk berbuat baik lebih banyak lagi. Ia menyebut hal ini sebagai bukti ilmiah bahwa kebaikan kepada sesama turut menyembuhkan, baik bagi yang menerima maupun yang memberi.

"Ketika kita peduli pada orang lain, di situlah muncul hormon oksitosin atau hormon cinta, juga dopamin yang menimbulkan rasa bahagia dan motivasi untuk melakukan lebih banyak kebaikan bagi sesama," ungkapnya.

Erwiani mengaitkan semangat kemerdekaan dengan ajaran membereskan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membereskan keluarga dan lingkungan yang lebih luas. Ia meyakini bahwa kepedulian yang dimulai dari lingkup terkecil pada akhirnya akan membentuk masyarakat dan bangsa yang benar-benar merdeka dari belenggu tekanan mental.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....