Ulama Berperan Luruskan Pemahaman Toleransi

  • 09 Agt 2026 14:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Toleransi menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang agama, budaya, suku, dan pandangan yang beragam. Dalam konteks tersebut, ulama dinilai memiliki peran strategis untuk memberikan pemahaman yang tepat sekaligus meluruskan pandangan yang keliru mengenai toleransi.

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Makassar sekaligus Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Dr. K.H. Kaswad Sartono, M.Ag., mengatakan salah satu pemahaman yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa toleransi dapat melemahkan akidah umat. Menurutnya, pemahaman tersebut muncul karena masih adanya anggapan bahwa menghormati perbedaan berarti harus mencampuradukkan keyakinan.

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Makassar sekaligus Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Dr. K.H. Kaswad Sartono, M.Ag. dalam dialog Pro 1 RRI Makassar.

Ia menjelaskan, toleransi berada pada ranah hubungan sosial antarmanusia. Setiap umat tetap memiliki kebebasan menjalankan akidah dan ibadah masing-masing, sembari menghormati pemeluk agama lain dalam kehidupan bermasyarakat.

“Toleransi, tasamuh, itu bainan nas, jadi hubungan sesama manusia, tidak masuk ke wilayah akidah,” ujar Kaswad dalam dialog Pro 1 RRI Makassar, Jum'at (7/8/2026).

Menurutnya, toleransi setidaknya dibangun melalui tiga sikap. Pertama, memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehendak Tuhan. Kedua, menghormati perbedaan cara pandang, sikap, dan perilaku. Ketiga, membangun kerja sama di tengah perbedaan untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama.

Kaswad juga menilai ulama dan tokoh agama memiliki tanggung jawab untuk memberikan keteladanan dalam kehidupan masyarakat. Sikap sabar, pemaaf, dan mampu menjaga perilaku ketika menghadapi perbedaan menjadi contoh nyata yang dapat membentuk cara masyarakat menyikapi keberagaman.

“Peran tokoh agama, ulama, dan siapapun yang diposisikan sebagai pimpinan, itu adalah menjadi contoh, suri teladan dalam hal kesabaran, dalam hal memberikan maaf kepada orang, dan perilaku yang baik,” katanya.

Ia menambahkan, keteladanan tokoh agama menjadi penting karena mereka telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Karena itu, cara seorang tokoh menyampaikan ajaran dan menyikapi perbedaan dapat turut memengaruhi pemahaman masyarakat mengenai toleransi.

Lebih lanjut, pembangunan toleransi membutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, akademisi, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar toleransi tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diwujudkan melalui interaksi dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

Kaswad berharap masyarakat tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh atau berkonflik. Sebaliknya, keberagaman diharapkan menjadi ruang untuk menemukan persamaan, memperkuat persaudaraan, dan membangun kemaslahatan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....