Menjaga Keikhlasan Beramal di Era Media Sosial

  • 27 Jul 2026 11:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Perkembangan teknologi dan media sosial di era modern saat ini membawa tantangan tersendiri bagi umat Islam dalam menjaga kerahasiaan ibadah. Banyaknya fenomena pamer amal di dunia maya dikhawatirkan dapat menggerus nilai keikhlasan yang seharusnya dijaga ketat.

Anggota Komisi Fatwa MUI Prov. Sulsel, Yusri Muhammad Arsyad dalam Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Makassar pada Minggu, 26 Juli 2026, menanggapi fenomena para tokoh publik atau influencer yang kerap membagikan momen ibadah mereka di platform digital. Yusri mengingatkan agar setiap individu senantiasa menimbang kembali niat awal sebelum memutuskan untuk menyebarkan amal kebaikan ke publik. “Apakah itu dibolehkan dalam agama kita? Nah, sekarang, kita lihat niatnya tadi. Kalau memang niatnya untuk bagaimana dikenal, setiap gerakan-gerakannya ingin dikenal, ini berbahaya. Mengancam keutuhan ibadahnya atau keutuhan pahalanya,” tegas Yusri.

Sementara itu, Yusri juga menanggapi terkait perbandingan nilai sedekah antara nominal besar yang diumumkan dengan nominal kecil yang dirahasiakan. Islam menempatkan keikhlasan sebagai penentu utama. Sedekah bernilai kecil yang disembunyikan jauh lebih mulia dibandingkan sedekah besar yang diiringi rasa ria dan keinginan untuk dipuji.

Kendati demikian, syariat Islam tetap memberikan ruang toleransi apabila pengumuman sedekah bertujuan untuk memotivasi orang lain agar turut berbuat kebaikan. Namun, aspek kehati-hatian tetap harus dikedepankan agar hati tidak tergelincir dalam kebanggaan diri yang semu. “Jadi, jangan sampai ada rasa ria pada saat kita disebut nama kita pada saat bersedekah. Nah, kalau memang muncul rasa ria itu sedikit, ya lebih baik kita dirahasiakan saja,” jelas Yusri.

Para ulama terdahulu memberikan teladan luar biasa dengan menyembunyikan amalan sunnah seperti puasa dan shalat malam hingga bertahun-tahun lamanya. Teladan tersebut menunjukkan betapa besar usaha yang harus dikerahkan untuk melindungi amal saleh dari godaan ketenaran duniawi.

“Mari kita menjaga keikhlasan kita semuanya, tanpa pandang bulu. Kita selalu membaca sejarah-sejarah dari ulama-ulama kita dahulu, bagaimana mereka menjaga keikhlasannya. Bukan untuk mendapatkan pencitraan seperti yang terjadi di zaman sekarang,” tutup Yusri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....