Perhumas Dorong Humas Naik Kelas, Tak Lagi Sekadar Penyampai Pesan
- 08 Agt 2026 20:26 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Sekretaris Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Benny Siga Butarbutar, menilai profesi humas saat ini tidak lagi cukup hanya berperan sebagai penyampai informasi. Humas dituntut mampu membangun pemahaman, menciptakan penerimaan, sekaligus mendorong publik untuk mengambil tindakan.
Hal itu disampaikan Benny usai pelantikan Pengurus Perhumas Kota Makassar periode 2026-2029 di Wisma Kalla, Makassar, Sabtu 8 Agustus 2026. Menurutnya, perubahan lingkungan komunikasi membuat kompetensi praktisi humas harus terus diperkuat agar mampu mengambil peran strategis dalam organisasi.
Benny mengatakan, berdasarkan kajian Perhumas, terdapat lima kelemahan fundamental yang masih perlu dibenahi oleh praktisi humas. Salah satunya adalah kemampuan dalam melakukan perencanaan strategis yang mampu membaca kebutuhan organisasi dalam jangka panjang.
"Planning itu bisa dilakukan kalau dia punya kemampuan memahami sumber daya dan strategi, serta kemampuan memahami lima sampai sepuluh tahun ke depan. Nah, ini yang tidak dipelajari," kata Benny yang juga merupakan Direktur Utama LKBN Antara.
Kelemahan kedua, menurut Benny, berkaitan dengan kampanye strategis. Ia menilai kampanye komunikasi tidak seharusnya hanya dilakukan sesaat, tetapi harus dirancang agar menghasilkan dampak yang dapat diukur dan dirasakan. "Kampanye strategik itu harus berujung pada dampak," ujarnya.
Selanjutnya, Benny menyoroti kemampuan media relation yang dinilainya perlu berkembang menjadi media strategis. Perubahan industri media membuat praktisi humas harus memahami bagaimana media tidak hanya menjadi saluran informasi, tetapi juga memiliki pengaruh dalam membentuk persepsi dan konstruksi kebenaran di masyarakat.
"Kebenaran diciptakan oleh para pemilik modal, itu bahaya. Karena itu media relation harus bergeser menjadi media strategik," katanya.
Kemampuan keempat yang harus diperkuat adalah komunikasi krisis. Benny menyebut kemampuan menghadapi krisis menjadi salah satu kompetensi yang paling dituntut dari praktisi humas karena setiap kelompok masyarakat memiliki karakter dan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
"Komunikasi krisis itu bukan hanya how to deliver a message. Rakyat beda-beda, komunitas beda-beda, media beda-beda. Itu pentingnya memahami komunikasi krisis," jelasnya.
Sementara itu, kelemahan kelima adalah kemampuan melakukan evaluasi diri terhadap program komunikasi yang telah dijalankan. Benny mengingatkan, keberhasilan sebuah program hari ini belum tentu mampu menjawab tantangan yang muncul di masa depan.
Menurutnya, kondisi organisasi dan masyarakat akan semakin kompleks sehingga praktisi humas membutuhkan rumusan serta pendekatan baru. Evaluasi menjadi penting agar strategi komunikasi tidak berhenti pada keberhasilan jangka pendek.
Benny menegaskan, apabila lima kelemahan tersebut tidak diperbaiki, fungsi humas akan sulit berkembang dari sekadar "pemadam kebakaran" ketika terjadi persoalan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. "Kalau lima kelemahan ini tidak diperbaiki, posisi humas hanya di tingkat pemadam kebakaran. Tidak akan pernah masuk dalam proses mengambil keputusan," tegasnya.
Ia mendorong peningkatan kompetensi praktisi humas, baik di perusahaan, BUMN maupun pemerintahan, agar fungsi komunikasi dapat ditempatkan lebih tinggi dalam struktur organisasi. Dengan begitu, humas tidak hanya bertugas menyampaikan pesan, tetapi ikut menentukan arah strategis organisasi. "Kompetensinya dinaikkan, tantangannya juga dinaikkan. Ini yang terus diburu agar humas menjadi bagian dari strategic thinking korporasi atau organisasi," pungkas Benny.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....