Bank Sampah Nurul Ilmi Jadi Percontohan Pemilahan Sampah Berbasis Warga
- 05 Agt 2026 11:53 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kebijakan wajib memilah sampah dari sumber yang mulai diterapkan Pemerintah Kota Makassar pada 1 Agustus 2026 tidak menjadi hal baru bagi warga RT 04/RW 07 Klaster Berlian Permai, Kecamatan Manggala. Melalui Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, warga telah memulai gerakan pemilahan sampah secara mandiri sejak 2025.
Ketua BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim dalam perbincangan bersama Pro 1 RRI Makassar lewat program Dialog Interaktif Makassar Menyapa, Rabu, 5 Agustus 2026 mengatakan gerakan tersebut berawal dari keresahan warga saat terjadi pembatasan pengangkutan sampah pada 2025. Kondisi itu mendorong warga mencari solusi agar volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dapat dikurangi.
"Dari situlah kami perlu bimbingan hingga akhirnya terbentuk Bank Sampah Unit yang diawali dari masjid sebagai pusat edukasi warga," ujarnya.

Menurut Andi Nirma, konsistensi pengelolaan sampah di lingkungannya tidak lepas dari kolaborasi antara warga, pengurus RT, pengembang kawasan, serta pemerintah. Selain membentuk BSU di masjid, warga juga menyiapkan sejumlah drop box di setiap lorong untuk memudahkan penyetoran sampah anorganik.
Ia menuturkan dukungan seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan program tersebut. "Ketua RT kami setiap minggu terus mengingatkan soal kebersihan. Developer, pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup juga terus mendampingi sehingga warga semakin konsisten memilah sampah," katanya.
Saat ditanya terkait kebijakan pemilahan sampah di Kota Makassar, Ketua Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim mengatakan bahwa pemberlakuan kebijakan wajib pilah sampah pada 1 Agustus 2026, BSU Nurul Ilmi telah melakukan simulasi selama empat bulan. Warga diberikan ember organik, disiapkan tempat pengolahan melalui Tempat Edukasi Bersama (TEBA), serta terus diedukasi agar terbiasa memisahkan sampah sejak dari rumah.
Hasilnya, volume sampah organik yang berhasil dikumpulkan meningkat signifikan. Andi Nirma mengungkapkan, sampah organik yang semula hanya sekitar seperempat karung kini meningkat menjadi dua karung setiap hari. "Alhamdulillah per 1 Agustus menjadi dua karung. Memang itu juga menjadi tantangan karena kapasitas ember tumpuk sudah penuh, sehingga kami terus menambah fasilitas dan tetap menyerahkan sebagian sampah ke pemerintah untuk dikelola," ungkapnya.
Selain mengolah sampah organik menjadi kompos untuk mendukung urban farming, BSU Nurul Ilmi juga mengembangkan sistem ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah anorganik. Sampah plastik dapat ditabung di bank sampah, dimasukkan ke drop box yang menjadi kas lorong, maupun disedekahkan melalui drop box di lingkungan masjid untuk mendukung berbagai kegiatan sosial masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....