Strategi FKUB Makassar Rawat Harmoni dan Lawan Hoaks

  • 28 Jul 2026 13:32 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Tantangan merawat kerukunan umat beragama di era modern semakin kompleks akibat pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Kemudahan penyebaran informasi di media sosial kerap memicu polarisasi serta penyebaran berita bohong berlatar keagamaan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, Arifuddin Ahmad kepada RRI pada Selasa, 28 Juli 2026, mengungkapkan inovasi yang dihadirkan FKUB. Inovasi berupa ruang dialog semi-formal bernama "Ngopi Kerukunan" sebagai wadah perjumpaan lintas elemen.

“Jadi ngopi, ngobrol perspektif dan inspiratif terkait tentang kerukunan. Nah, ini kita coba mudah-mudahan ke depan semakin banyak ruang-ruang,” jelas Arifuddin.

Program diskursus interaktif ini melibatkan pemuda, tokoh perempuan, budayawan, hingga akademisi untuk saling bertukar gagasan secara terbuka. Pendekatan santai di luar ruang formal dinilai lebih efektif dalam mencairkan sekat-sekat perbedaan di antara kelompok masyarakat.

Selain ruang dialog, FKUB Makassar mengutus pengurus dari lintas iman untuk aktif mengedukasi umat di majelis dan organisasi keagamaan masing-masing. Strategi edukasi internal ini terbukti ampuh meredam potensi salah paham terkait dinamika pendirian rumah ibadah di lapangan.

Lebih lanjut dikatakan, menghadapi maraknya hoaks keagamaan di kalangan generasi muda, Arifuddin mengimbau masyarakat untuk mengedepankan prinsip tabayyun atau verifikasi. Langkah ini dilakukan sebelum membagikan informasi.

"Pertanyaan yang perlu diperhatikan, pertama adalah apakah berita itu benar. Yang kedua, apakah berita itu kalau dia benar, bermanfaat. kemudian tidak ada orang tersakiti. Karena boleh jadi bagi orang lain itu bermanfaat, tapi bagi kelompok tertentu tersakiti. Kemudian, apakah sebagai orang beragama, apakah disitu ada keridaan Tuhan,” jelas Arifuddin.

FKUB Makassar juga merencanakan pelatihan mediator kerukunan untuk melatih pemuda dalam menangani serta menyelesaikan resolusi konflik secara mandiri. Keterlibatan aktif anak muda dipandang sebagai kunci utama dalam memutus rantai provokasi di ruang siber.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....