Ajaran Konghucu: Jing Zuo Jernihkan Batin, Bukan Lari dari Dunia

  • 12 Jul 2026 19:12 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Jing Zuo atau duduk hening bukanlah bentuk pelarian dari kenyataan hidup. Praktik ini justru menjadi jalan untuk menjernihkan watak sejati manusia. Hal itu disampaikan Js dr Erwiyani, Sp.KJ, dalam program Mimbar Agama Konghucu bertema "Menemukan Kedamaian Jiwa Melalui Meditasi (Jing Zuo)" yang disiarkan Pro 1 RRI Makassar, Sabtu, 11 Juli 2026.

"Jing Zuo ini bukanlah bentuk pelarian dari dunia nyata, tetapi ini adalah usaha kita untuk menjadi lebih baik dengan cara memeriksa diri, bukan untuk mengosongkan pikiran menjadi hampa, melainkan menjernihkan pikiran dan watak sejati kita," ujar Erwiyani.

Ia menjelaskan setiap manusia dianugerahi watak sejati oleh Tuhan sejak lahir. Watak tersebut, menurutnya, pada dasarnya baik dan merupakan wujud kebajikan.

Erwiyani mengutip Kitab Ajaran Besar (Tasy) bab utama ayat dua untuk menggambarkan tahapan mencapai kedamaian jiwa. Tahapan itu dimulai dari mengetahui tujuan hidup hingga berujung pada keberhasilan moral.

"Setelah tahu tempat hentian atau tujuan, barulah diperoleh ketetapan hati. Setelah diperoleh ketetapan hati, barulah dapat dicapai ketenangan yang tenteram," katanya menirukan ayat suci tersebut.

Ia juga mengutip Kitab Mengse bab 7A ayat satu yang menegaskan pentingnya menyelami hati untuk mengenal watak sejati dan mengenal Tuhan. Erwiyani menyebut proses ini sejalan dengan konsep pembinaan diri atau shen dalam ajaran Konghucu.

"Orang yang dapat menyelami hatinya akan mengenal watak sejatinya, dan orang yang mengenal watak sejatinya akan mengenal Tuhan," ungkap Erwiyani mengutip Kitab Mengse.

Erwiyani menganalogikan hati manusia seperti segelas air jernih yang teraduk pasir. Ia menyebut, ketenangan diperlukan agar endapan kotoran mengendap dan air kembali jernih, bukan dengan terus mengaduknya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....