Hari Raya Kuningan Jadi Momentum Introspeksi dan Kesadaran Diri Umat Hindu

  • 25 Jun 2026 12:13 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Hari Raya Kuningan tidak hanya menjadi penutup rangkaian perayaan Galungan, tetapi juga menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi dan membangun kesadaran diri yang lebih mendalam. Hal tersebut disampaikan narasumber I Ketut Artana Muliadi, S.Ag. dalam Program Hindu Dharma yang disiarkan Pro 1 RRI Makassar, Rabu, 24 Juni 2026.

I Ketut Artana Muliadi, S.Ag. dalam Program Hindu Dharma yang disiarkan RRI Makassar (24/6/2026).

Menurut Artana, Kuningan memiliki makna filosofis yang erat dengan kata uning yang berarti tahu atau sadar. Setelah merayakan kemenangan Dharma pada Hari Galungan, umat Hindu diajak untuk merenungkan sejauh mana nilai-nilai Dharma telah berakar dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menjadi simbol perayaan lahiriah.

Ia menjelaskan, makna tersebut juga tercermin dalam ajaran Lontar Sundarigama yang menyebutkan bahwa pada Hari Saniscara Kliwon Kuningan, Sang Hyang Mahadewa bersama para Dewata dan leluhur turun ke dunia untuk memberikan anugerah kehidupan dan pencerahan kepada umat manusia. Karena itu, persembahyangan dianjurkan selesai sebelum tengah hari atau Tengai Tepet, sebagai simbol pentingnya memanfaatkan waktu untuk berbuat kebajikan tanpa menunda.

Artana mengatakan, ketentuan tersebut bukan sekadar aturan ritual, melainkan pengingat tentang nilai kesadaran terhadap waktu. Menurutnya, kebaikan, bakti, dan perbaikan diri harus dilakukan saat kesempatan masih terbuka, sebagaimana sinar matahari yang mencapai puncaknya pada tengah hari.

Selain melalui sastra lontar, pesan spiritual Hari Kuningan juga diwujudkan melalui berbagai sarana upacara atau banten. Salah satunya adalah Tamiang yang melambangkan perisai kehidupan dan keteguhan batin dalam menghadapi suka maupun duka. Simbol ini mengingatkan umat agar tetap rendah hati saat memperoleh keberhasilan dan tetap kuat ketika menghadapi cobaan.

Lebih lanjut, Endongan dimaknai sebagai bekal perjalanan hidup yang mengajarkan bahwa harta duniawi tidak akan dibawa setelah kematian. Bekal sejati, kata Artana, adalah karma baik dan pengetahuan suci. Sementara Sara Ter atau panah melambangkan ketajaman pikiran yang harus digunakan untuk membedakan kebenaran dari kebodohan.

Ia juga menjelaskan makna Nasi Kuning yang identik dengan perayaan Kuningan. Warna kuning merupakan simbol kesucian, kejayaan, dan kebijaksanaan yang berkaitan dengan Bhatara Mahadewa dalam konsep Dewata Nawa Sanga. Karena itu, persembahan nasi kuning menjadi simbol harapan agar umat senantiasa memperoleh pencerahan dan tuntunan spiritual dalam kehidupan.

Menutup pemaparannya, Artana mengajak umat Hindu menjadikan Hari Kuningan sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran diri dan menjaga nyala Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, jika Galungan melambangkan kemenangan melawan kejahatan, maka Kuningan menjadi saat yang tepat untuk menaklukkan ego dan kebodohan dalam diri demi mencapai kehidupan yang lebih bijaksana, damai, dan selaras dengan semesta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....