Media Sosial Bikin Ekspektasi Pernikahan Terlalu Tinggi

  • 23 Jun 2026 12:43 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Media sosial kini memegang peranan yang sangat masif dalam membentuk persepsi publik mengenai kehidupan pasca-pernikahan. Kehadiran konten-konten yang menampilkan standarisasi hubungan ideal atau gaya hidup mewah kerap kali menjadi pisau bermata dua.

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan PG PAUD Universitas Negeri Makassar, Tri Sugiarti kepada RRI mengungkapkan fenomena ini sering ditemui ketika seseorang terlalu larut dalam menyerap narasi drama atau kehidupan figur publik di platform digital. Akibatnya, ekspektasi yang dibangun sebelum menikah menjadi terlampau tinggi dan tidak berpijak pada realitas. Ketika kenyataan hidup berumah tangga tidak seindah apa yang tampil di layar gawai, kekecewaan mendalam pun tak terhindarkan.

“Media sosial itu kan seperti pisau, kalau misalnya kita terlalu sering nih, misalnya membuka sosial media, mungkin kalau yang bagus-bagus ya misalnya, ini bisa menjadi pisau. Kita akan membandingkan pasangan kita dengan pasangan lain, karena kita melihat kesempurnaan dari satu pasangan,” jelas Tri. Senin, 22 Juni 2026

Dampak buruk lainnya dari media sosial dengan hadirnya komentar-komentar miring dari warganet yang sering kali memperkeruh konflik internal keluarga. Pengaruh eksternal ini, jika ditambah dengan intervensi keluarga yang destruktif, akan mempercepat keputusan untuk berpisah.

Tri mengingatkan masyarakat untuk menekan tingginya angka perceraian di masa depan, perlunya edukasi pranikah bagi generasi muda mutlak dilakukan. Langkah preventif utama yang harus dilakukan adalah menurunkan dan memanajemen ekspektasi terhadap calon pasangan hidup.

“Edukasi berkaitan dengan bagaimana kita memberikan ekspektasi pada pasangan. Ekspektasinya diturunkan jangan terlalu tinggi-tinggi banget ekspektasinya. Menjadi orang yang lebih matang atau siap dalam berumah tangga jadi, mau tidak mau kita mengenali dulu nih, diri kita itu seperti apa, apa yang kira-kira yang membuat kita belum bisa mengelola emosi kita dengan baik,” jelas Tri.

Kesiapan berumah tangga idealnya tidak hanya berfokus pada peran sebagai suami atau istri secara romantis semata. Generasi muda juga dituntut siap mengemban tanggung jawab besar sebagai figur ayah dan ibu bagi anak-anak mereka kelak. Tanpa adanya kesiapan mental dan komunikasi yang kokoh, pondasi rumah tangga akan sangat rapuh diterjang badai permasalahan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....