Komunikasi Buruk Jadi Pemicu Utama Keretakan Pernikahan
- 23 Jun 2026 09:27 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kasus keretakan rumah tangga kini tidak lagi didominasi oleh pasangan yang menikah di usia dini, melainkan meluas hingga ke kelompok usia produktif dan usia lanjut. Berdasarkan data makro, problem mendasar yang memicu runtuhnya biduk rumah tangga ini sering kali bermula dari persoalan yang sangat fundamental.
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan PG PAUD Universitas Negeri Makassar, Tri Sugiarti kepada RRI mengungkapkan bahwa akar utama dari runtuhnya institusi pernikahan adalah buruknya pola komunikasi antar-pasangan. Menurutnya, usia kronologis seseorang tidak serta-merta menjamin kedewasaan mereka dalam mengelola dialog rumah tangga. Masalah komunikasi ini mengikis hubungan secara perlahan hingga memicu kejenuhan ekstrim.
“Itu adalah masalah yang paling fundamental, masalah komunikasi dia dengan pasangannya. Komunikasi ini biasanya kita tidak melihat bagaimana usia ya, tapi berkaitan bagaimana kita belajar untuk membangun komunikasi dengan lebih baik,” jelas Tri. Senin, 22 Juni 2026
Berdasarkan klasifikasi data, kelompok usia produktif antara 21 hingga 33 tahun menjadi salah satu klaster yang paling rentan terhadap perceraian. Pada fase ini, pasangan suami istri biasanya berada di titik krusial penataan karir dan stabilitas finansial. Gesekan ego dan tuntutan ekonomi pada usia tersebut sering kali diperparah dengan mencuatnya isu kesehatan mental yang marak dibahas di media sosial.
“Dari data yang ada yang paling pertama adalah usia produktif yang tadi 21 sampai dengan 33 tahun itu paling rentan. Terlebih ketika rentan usia ini adalah usia di mana mereka paling rentan dengan masa mereka sedang ingin mencari puncak-puncak karirnya. Bahkan isu kesehatan mental itu kemudian semakin marak di usia 21 dengan usia 33 tahun. Jadi usia-usia ini yang agak sedikit rentan terkait dengan angka perceraian yang tadi,” ujar Tri.
Selain usia produktif, fase kritis yang mendominasi angka statistik adalah usia pernikahan di bawah 5 tahun. Tri menyebutkan bahwa hampir 80 persen dari total kasus perceraian justru menimpa pasangan yang baru seumur jagung membina rumah tangga. Kurangnya pengalaman bersama membuat mereka kaget saat melihat karakter asli pasangan pasca-pernikahan.
Fenomena menarik lainnya yang kini tengah meningkat adalah grey divorce, yaitu perceraian yang terjadi pada pasangan usia lanjut di atas 50 tahun. Lonjakan angka perceraian pada kelompok laki-laki berusia 52 tahun ke atas dipicu oleh fase empty nest syndrome atau masa di mana rumah itu sudah mulai semakin sepi, hilangnya kesibukan atau pension.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....