Kemandirian Finansial Mengubah Pandangan Perempuan Soal Perceraian
- 23 Jun 2026 09:25 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pandangan masyarakat terhadap perceraian mengalami pergeseran nilai yang sangat masif dalam beberapa dekade terakhir. Jika dahulu wanita cenderung bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena terkendala stigma sosial dan ketergantungan ekonomi, kini banyak perempuan yang secara sadar memilih untuk menggugat cerai demi menyelamatkan diri mereka.
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan PG PAUD Universitas Negeri Makassar, Tri Sugiarti, dalam Program Pengarusutamaan Gender pada Senin 22 Juni 2026 mengungkapkan bahwa modernisasi telah membuka ruang profesi yang luas bagi perempuan. Hal ini mengubah lanskap domestik di mana perempuan tidak lagi menggantungkan stabilitas hidupnya pada laki-laki.
“Seiring sejalan dengan adanya modernisasi, banyak beberapa perempuan yang sudah mulai bisa mandiri secara finansial. Nah, kemandirian finansial ini kemudian merasa bahwa dia tidak membutuhkan lagi ketergantungan dengan pasangannya. Yang awalnya mungkin dia dijanjikan dengan kemewahan atau hal yang lainnya, tapi ternyata karena dia bisa mandiri dan dia bisa memenuhi kebutuhan itu,” jelas Tri
Lebih lanjut dikatakan, ketika seorang wanita mampu mandiri secara finansial namun merasa terjebak dalam komitmen pernikahan yang tidak adil atau dipenuhi janji manis palsu, mereka tidak ragu untuk mengambil langkah tegas.Faktor krusial lain yang mendorong perempuan melayangkan gugatan cerai adalah kesadaran akan kesejahteraan psikologis (psychological well-being).
Tri menilai banyak perempuan yang berani memutus ikatan pernikahan demi menyelamatkan kesehatan mental diri sendiri serta anak-anak mereka dari dampak buruk lingkungan rumah tangga yang beracun (toxic). Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis, menjadi batasan tegas yang tidak bisa ditoleransi lagi.
Perempuan yang memilih bercerai akibat KDRT umumnya didorong oleh ketakutan akan rusaknya masa depan psikologis anak-anak mereka. Demi memutus mata rantai trauma antargenerasi tersebut, langkah cut-off atau bercerai diambil sebagai bentuk proteksi terbaik bagi masa depan sang buah hati.
Selain masalah kekerasan dan pengkhianatan yang berulang, kejenuhan ekstrem akibat beban ganda (double burden) juga menjadi pemicu utama perempuan mengalami kondisi burnout. Dalam banyak kasus nyata di masyarakat, perempuan sering kali dipaksa menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah sekaligus memikul tanggung jawab penuh atas urusan domestik rumah tangga tanpa adanya pembagian peran yang adil dari pihak suami.
“Dia menjadi tulang punggung keluarga. Secara tidak langsung, dia harus menanggung yang namanya beban tanggung jawab domestik yang ada di rumah. Setelah dia pulang dari kerja, dia masih harus mengurus pekerjaan rumah tangga, sehingga dia merasa, kok beban saya ini banyak ya.
Meskipun keputusan bercerai memberikan rasa lega dari beban pernikahan yang timpang, fase pasca-perceraian tetap menyisakan krisis emosional yang berat bagi perempuan, seperti rasa bersalah, rasa gagal, hingga trauma mendalam. Di sinilah pentingnya sistem pendukung (support system) yang positif dari keluarga dan lingkungan sosial, serta akses cepat ke layanan psikolog profesional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....