Muharram Jadi Momentum Memulai Hijrah dari Niat Baik menuju Kebiasaan Baik
- 23 Jun 2026 05:13 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Bulan Muharram menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan refleksi diri dan memperkuat tekad menjadi pribadi yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan Dr. H. Andi Abdul Hamzah, Lc., MA dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Makassar, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun Hijriah, melainkan pengingat bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan hidup semakin berkurang. "Karena itu, setiap individu perlu bertanya kepada dirinya sendiri tentang perubahan positif yang telah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, "jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa makna hijrah tidak hanya berkaitan dengan perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perpindahan dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang lebih baik. Hijrah, kata dia, merupakan gerakan jiwa untuk meninggalkan kelalaian menuju ketaatan dan kesungguhan.
Andi Abdul Hamzah menegaskan bahwa setiap perubahan besar berawal dari niat yang baik. "Namun, niat saja tidak cukup apabila tidak diikuti langkah nyata yang dilakukan secara berulang hingga menjadi kebiasaan dan akhirnya membentuk akhlak seseorang, "tambahnya.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat melakukan tiga bentuk hijrah sederhana. Pertama, hijrah dalam niat dengan menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah karena Allah SWT. "Kedua, hijrah dalam penggunaan waktu dengan memanfaatkan setiap pagi untuk beribadah, berzikir, membaca Al-Qur'an, serta menjalankan aktivitas secara disiplin dan istiqamah, "ungakpanya.
"Ketiga, hijrah dalam akhlak sosial. Menurutnya, masyarakat perlu menjaga lisan, tulisan, dan perilaku di ruang digital maupun kehidupan sehari-hari, " jelasnya. Ia mengingatkan agar media sosial digunakan untuk menyebarkan manfaat, bukan fitnah, kebencian, atau ujaran yang dapat melukai orang lain.
Menanggapi pertanyaan pendengar mengenai sulitnya mengubah niat baik menjadi kebiasaan, ia menjelaskan bahwa banyak orang berhenti pada tahap niat tanpa membangun sistem yang mendukung perubahan. Selain itu, lingkungan yang tidak kondusif, ketergantungan pada motivasi sesaat, serta keinginan untuk langsung sempurna sering menjadi penghambat terbentuknya kebiasaan baik.
Ia juga menekankan pentingnya lingkungan pergaulan dalam proses hijrah. Lingkungan yang positif dapat memperkuat kebiasaan baik, sedangkan lingkungan yang kurang mendukung dapat memperlambat proses perubahan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa seseorang tetap memiliki kemampuan untuk memilih dan menjaga konsistensi dalam kebaikan.
Menutup tausiyahnya, Andi Abdul Hamzah mengajak umat Islam untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT. Menurutnya, selama masih diberi kesempatan hidup, pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang diridai Allah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....