Harga Pakan Melonjak, Disnak Sulsel Rekomendasikan Self-Mixing

  • 05 Jun 2026 20:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus memantau pergerakan harga pakan ternak yang kian melambung tinggi di pasaran. Kondisi ini menjadi beban berat yang mengancam keberlangsungan usaha para peternak, khususnya peternak mandiri skala kecil.

Pengawas Mutu Pakat Ahli Madya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan, Nunung Akhirany dalam Program Kiprah Sulsel pada Jumat, 5 Juni 2026 mengatakan Fluktuasi harga pakan dinilai menjadi penentu mati hidupnya industri peternakan saat ini karena mendominasi sebagian besar modal operasional. Komponen biaya pakan memegang porsi yang sangat masif dalam rantai produksi hewan ternak.

Dikatakan, menurut pantauan di lapangan, harga pakan jenis starter (fase awal pertumbuhan) saat ini bahkan sudah menembus angka ratusan ribu rupiah per karungnya. Fenomena kenaikan tajam ini menuntut respons cepat dari para peternak agar tidak mengalami gulung tikar.

“Pakan itu sangat krusial ya bagi usaha peternakan, dimana biaya pakan itu bisa mencapai 60% sampai 75% dari total produksi. Artinya pakan itu menjadi penentu utama dalam suatu usaha peternakan. Pakan komersial periode starter bisa mencapai Rp17.000 per kilogram, atau sekitar Rp850.000 per sak isi 50 kilogram.” jelas Nunung.

Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri menjadi salah satu pemicu utama mengapa harga pakan pabrikan sulit dikendalikan. Nunung memaparkan bahwa industri pakan nasional masih bergantung 70% pada impor bungkil kedelai asal Brazil dan Amerika Serikat sebagai sumber protein inti.

Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang otomatis membengkak dalam biaya perolehan pabrik, ditambah dengan ketatnya kompetisi serapan jagung lokal untuk kebutuhan konsumsi manusia, industri bioetanol, hingga program pangan nasional seperti makan bergizi gratis. Sebagai solusi konkret, Dinas Peternakan Sulsel merekomendasikan penerapan strategi semi self-mixing (kombinasi pakan pabrikan dan pakan racikan sendiri) bagi para peternak mandiri.

Dikatakan, metode ini dirancang agar peternak tetap bisa menjaga target pertumbuhan hewan sekaligus menekan biaya operasional yang fluktuatif. Pola ini memisahkan perlakuan pakan berdasarkan fase usia ternak guna meminimalkan risiko gagal tumbuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....