Hikmah Pengorbanan Nabi Ismail AS, Teladan Membangun Keluarga Taat dan Harmonis

  • 30 Mei 2026 19:42 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kisah pengorbanan Nabi Ismail AS kembali menjadi pengingat bagi umat Islam tentang arti keikhlasan, ketaatan, dan keteguhan iman dalam kehidupan keluarga. Peristiwa yang diabadikan dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, tidak hanya menjadi sejarah keagamaan, tetapi juga menyimpan pelajaran yang relevan bagi keluarga masa kini.

Dalam obrolan Nuansa Fajar, pada hari Jumat 29 Mei 2026 di Pro 4 RRI Makassar, Dr. H. Andi Darmawangsa, S. Ag. M. Ag, menjelaskan bahwa hikmah terbesar dari pengorbanan Nabi Ismail AS adalah lahirnya keluarga yang dibangun di atas nilai keimanan, komunikasi, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

“Dalam kisah tersebut, kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan ketundukan yang luar biasa kepada perintah Allah. Yang menarik, perintah yang sangat berat itu tidak dijalankan dengan paksaan, tetapi melalui dialog dan kepercayaan antara ayah dan anak,” ujarnya.

Menurutnya, nilai tersebut sangat penting diterapkan dalam kehidupan keluarga saat ini. Orang tua tidak hanya berperan sebagai pemberi perintah, tetapi juga menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai agama, kejujuran, dan tanggung jawab kepada anak-anak sejak dini.

Ia menambahkan bahwa Nabi Ismail AS menunjukkan sikap hormat, sabar, dan taat kepada orang tua selama berada dalam koridor kebaikan. Sikap tersebut menjadi contoh bagi generasi muda untuk tetap menghargai nasihat orang tua di tengah berbagai pengaruh kehidupan modern yang semakin kompleks.

Selain itu, kisah pengorbanan Nabi Ismail AS juga mengajarkan tentang pentingnya keikhlasan dalam menghadapi ujian hidup. Dalam kehidupan keluarga masa kini, tantangan ekonomi, pendidikan anak, hingga dinamika sosial sering kali menjadi ujian yang harus dihadapi bersama. Dengan meneladani kesabaran dan keteguhan keluarga Nabi Ibrahim AS, setiap anggota keluarga dapat belajar untuk saling menguatkan dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

“Pengorbanan yang dimaksud bukan hanya tentang menyerahkan sesuatu yang dicintai, tetapi juga kemampuan mengendalikan ego, meluangkan waktu untuk keluarga, serta mendahulukan nilai-nilai kebaikan dibanding kepentingan pribadi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa semangat pengorbanan Nabi Ismail AS dapat diwujudkan dalam bentuk perhatian orang tua terhadap pendidikan karakter anak, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, serta menanamkan nilai ketakwaan sebagai fondasi kehidupan rumah tangga.

Melalui momentum Idul Adha, masyarakat diajak untuk tidak hanya memahami kurban sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai sarana memperkuat hubungan keluarga, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperkokoh keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, keluarga yang kuat lahir dari keikhlasan, kepercayaan, dan ketaatan kepada Allah SWT.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....