Kemenag Sulsel Siapkan Rukyatul Hilal Awal Zulhijah 1447 H
- 17 Mei 2026 12:41 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan mulai mempersiapkan proses penentuan awal 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah melalui pemantauan rukyatul hilal yang dijadwalkan berlangsung Minggu, 17 Mei 2026. Proses ini menjadi salah satu tahapan krusial dalam penetapan kalender hijriah nasional, khususnya menjelang momentum Hari Raya Iduladha yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial bagi umat Islam.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Ali Yafid, mengungkapkan pelaksanaan rukyatul hilal tingkat Sulawesi Selatan tahun ini kembali dipusatkan di lantai 18 Gedung Menara Iqra Universitas Muhammadiyah Makassar. Lokasi tersebut dipilih setelah mempertimbangkan aspek astronomis, kondisi geografis, serta faktor cuaca yang belakangan masih didominasi hujan dan awan tebal di sejumlah wilayah Sulsel.
Menurut Ali Yafid, posisi gedung yang tinggi dan memiliki cakrawala pandang cukup luas dinilai memberi peluang lebih besar terhadap keberhasilan observasi hilal saat matahari terbenam. Pemilihan titik pemantauan juga menjadi bagian penting dalam memastikan akurasi pengamatan sebelum hasilnya dilaporkan ke pemerintah pusat.
“Dalam rukyatul hilal, faktor cuaca dan keterbukaan ufuk sangat menentukan. Karena itu, Unismuh Makassar kembali dipilih karena dianggap paling representatif untuk pemantauan hilal di Sulawesi Selatan,” ujarnya saat ditemui di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu 16 Mei 2026 malam.
Ia menjelaskan, selama ini Sulawesi Selatan memiliki sejumlah titik rukyat yang digunakan dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, maupun Zulhijah. Namun pada tahun ini, kondisi cuaca menjadi salah satu pertimbangan utama sehingga pengamatan dipusatkan di lokasi yang dinilai memiliki tingkat visibilitas terbaik.
Selain observasi langsung, proses penentuan awal bulan hijriah juga didukung melalui pendekatan hisab atau perhitungan astronomi yang dilakukan Badan Hisab Rukyat Sulsel bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil perhitungan tersebut menunjukkan posisi hilal diperkirakan telah memenuhi standar imkanur rukyat yang disepakati negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Berdasarkan data yang dihimpun, matahari diperkirakan terbenam pada pukul 17.54.50 Wita. Sementara posisi tinggi hilal menurut data BMKG berada di angka 4,32 derajat, sedangkan hasil hisab Badan Hisab Rukyat Sulsel menunjukkan posisi 4,20 derajat.
Ali Yafid menilai angka tersebut telah melewati ambang batas minimum imkanur rukyat MABIMS, yakni tinggi hilal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Artinya, secara astronomis peluang terlihatnya hilal relatif terbuka.
“Kalau melihat hasil hisab, posisi hilal sudah berada di atas ufuk dan telah memenuhi kriteria MABIMS. Ini menunjukkan peluang masuknya awal Zulhijah cukup besar,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan hasil rukyat daerah belum menjadi dasar tunggal penetapan awal bulan hijriah. Pemerintah pusat melalui Kementerian Agama Republik Indonesia tetap akan menggelar sidang isbat dengan menggabungkan laporan rukyat dari berbagai daerah serta hasil perhitungan astronomi nasional sebelum menetapkan secara resmi awal Dzulhijjah 1447 Hijriah.
“Keputusan akhirnya tetap menunggu sidang isbat pemerintah. Jadi seluruh hasil rukyat dari daerah nantinya akan menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan nasional,” katanya.
Penetapan awal Dzulhijjah menjadi momentum penting bagi umat Islam karena berkaitan langsung dengan jadwal pelaksanaan puasa Arafah, Hari Raya Iduladha, hingga ibadah kurban yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....