Remaja Rentan Terjerat Narkoba, Ini Penjelasan Psikologisnya

  • 16 Mei 2026 10:54 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Penyalahgunaan narkotika sering kali bukanlah sebuah tindakan tunggal yang berdiri sendiri. Dibalik fenomena tersebut terdapat muara dari berbagai kompleksitas psikologis yang dialami seseorang.

Psikolog Klinis Ahli Muda BNNP Sulsel, Musma Muiz dalam Program SANKSI Pro 1 RRI Makassar, mengatakan banyak individu terjebak dalam jerat ini karena dorongan internal untuk mengatasi rasa kurang percaya diri atau demi mengejar performa kerja yang dianggap lebih optimal. Musma juga menekankan persepsi keliru terkait kandungan zat pada narkotika dapat membuat seseorang menjadi versi diri yang lebih baik dan produktif.

Selain itu, aspek fundamental manusia seperti rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru juga sering kali menjadi pintu masuk awal dalam penyalahgunaan narkotika. Ketika seseorang dihadapkan pada tekanan hidup dan ditawari jalan pintas, rasa penasaran tersebut sering kali mengalahkan akal sehat.

Hal ini dapat terlihat pada kondisi remaja yang sangat rentan. “Di fase remaja rasa ingin tahu anak itu kan jadi lebih tinggi. Kemudian, role model juga menjadi salah satu aspek yang memengaruhi kehidupan remaja,” jelas Musma. Sabtu, 16 Mei 2026.

Fase remaja secara psikologis merupakan masa transisi yang paling rentan dalam siklus hidup manusia. Pada masa ini, seorang anak manusia mengalami pergolakan emosi yang hebat sekaligus pencarian jati diri yang dinamis. Ketidakstabilan inilah yang sering kali membuat kelompok usia remaja menjadi target empuk dari penyalahgunaan zat narkotika.

Musma juga menjelaskan bahwa fase remaja secara psikologis merupakan masa transisi yang rentan karena bagian otak prefrontal cortex, yang berfungsi sebagai pusat kendali logika dan pengambilan keputusan, belum sepenuhnya matang. Sementara itu, sistem limbik atau pusat emosi sedang aktif-aktifnya. Hal inilah yang secara alami membuat remaja memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, cenderung impulsif, dan suka mengambil risiko (risk-taking behavior).

Tanpa edukasi yang tepat, uji coba pertama bisa langsung berujung pada kecanduan yang merusak masa depan. Peran aktif orang tua dan lingkungan sekolah sangat dibutuhkan untuk menjadi 'pusat kendali eksternal' bagi emosi remaja yang masih meluap-luap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....