Waspada Modus Baru, Peredaran Narkotika Sasar Anak Sekolah lewat Vape

  • 22 Jul 2026 20:30 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Ancaman penyalahgunaan narkotika di Indonesia kini telah bergeser dan menyasar kelompok usia yang jauh lebih muda, yakni anak-anak usia sekolah dan pelajar. Para bandar narkotika memanfaatkan ketidaktahuan remaja dengan mengemas barang haram tersebut ke dalam bentuk dan tren gaya hidup masa kini.

Penyuluh Narkotika Ahli Muda, Anggita Ariati, dalam program SANKSI Pro 1 RRI Makassar pada Rabu, 22 Juli 2026 mengungkapkan bahwa modus operandi peredaran narkotika semakin mengkhawatirkan dan sulit dikenali. Dikatakan, saat ini mereka memasukkan narkotika kedalam vape dalam bentuk cairan.

“Dan ini marak terjadi yang anak-anak biasa katakan dengan narkotika sinte. Dan itu bentuknya sudah liquid. Jadi penggunaan vape, mereka memasukkan narkotika ke dalam vape dalam bentuk cairan dan itu gak butuh banyak Setetes dua tetes aja,” jelas Anggi.

Perkembangan bentuk narkotika sintetis cair yang dikonsumsi melalui rokok elektrik membuat para pelajar kerap tidak menyadari bahwa mereka sedang mengonsumsi zat terlarang. Kondisi ini menuntut adanya intervensi dini dari pemerintah melalui institusi pendidikan agar para siswa mampu mengenali dan menolak ancaman tersebut.

Dijelaskan, melalui program Integrasi Kurikulum Anti Narkotika (IKAN), BNN membekali para siswa dengan tiga elemen kompetensi penting. Elemen pertama mencakup penguatan karakter, keterampilan diri, serta pemahaman tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penggunaan obat yang benar.

Elemen kedua dalam kurikulum ini adalah penanaman nilai P4GN yang berfokus pada pembangunan soft skills remaja. Soft skills tersebut meliputi kemampuan regulasi diri, ketegasan diri (assertiveness), serta kemampuan mencari bantuan (reaching out) ketika menghadapi situasi yang berisiko.

Elemen terakhir diarahkan agar para siswa mampu mengekspresikan pemahaman mereka melalui proyek kreatif, karya tulis, maupun majalah dinding di sekolah. Pendekatan pembelajaran interaktif seperti role play juga diterapkan agar materi pencegahan narkoba tidak membosankan bagi generasi Z.

Anggita menegaskan bahwa kondisi darurat narkotika saat ini menuntut sistem pendidikan untuk siaga melindungi generasi muda. Dengan adanya pembekalan yang berkesinambungan dari tingkat PAUD hingga SMA, diharapkan para pelajar memiliki ketahanan mental yang kuat terhadap bahaya narkoba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....