Strategi Pendidikan Akhlak dalam Mempersiapkan Generasi Berkarakter Islam

  • 16 Mei 2026 08:37 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital yang kian masif, pembentukan karakter anak menjadi tantangan serius sekaligus prioritas utama bagi setiap orang tua dan pendidik. Persoalan krusial ini menjadi sorotan utama dalam program siaran religi Titian Ilahi di PRO1 RRI Makassar pada Jumat (15/05/2026). Program ini menghadirkan narasumber, Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag., seorang Guru Besar dari UIN Alauddin Makassar yang bergabung secara daring untuk membedah strategi membangun fondasi moral yang kokoh bagi generasi mendatang.

Dipandu oleh penyiar Arfan Yusri, perbincangan menitikberatkan pada esensi karakter sebagai jati diri bangsa dan cerminan nilai-nilai spiritual. Prof. Rahmi menekankan bahwa karakter bukanlah sesuatu yang terbentuk secara instan, melainkan hasil dari proses pengasuhan yang konsisten dan berlandaskan pada pemahaman agama yang benar. Menurutnya, kecerdasan intelektual tanpa dibarengi dengan karakter yang baik hanya akan melahirkan individu yang pintar secara kognitif namun kering secara empati dan etika.

Dalam penjelasannya, Prof. Rahmi menegaskan bahwa keluarga adalah madrasah atau sekolah pertama bagi seorang anak. Lingkungan rumah tangga memegang peranan hingga 80 persen dalam membentuk perilaku dan cara pandang anak terhadap dunia. "Karakter yang baik itu berawal dari apa yang anak lihat di rumah. Orang tua tidak cukup hanya sekadar memerintah, tetapi harus menjadi role model atau teladan nyata bagi anak-anak mereka dalam mempraktikkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan kasih sayang," ungkap Prof. Rahmi Damis.

Menghadapi tantangan di era digital, Prof. Rahmi Damis juga menyoroti pentingnya literasi digital yang berbasis akhlak. Ia berpendapat bahwa teknologi adalah pisau bermata dua yang bisa merusak karakter jika tidak dibentengi dengan iman yang kuat. Orang tua dituntut untuk tidak gagap teknologi agar dapat mendampingi anak dalam menyaring informasi yang masuk. "Tantangan kita hari ini adalah bagaimana memastikan anak-anak tetap memiliki kontrol diri di ruang siber, di mana karakter jujur dan tanggung jawab harus tetap teguh meski tanpa pengawasan fisik secara langsung," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan dan ketakwaan (IPTEK dan IMTAQ) harus berjalan selaras dalam kurikulum pendidikan, baik formal maupun informal. Prof. Rahmi mengajak para pendidik untuk tidak hanya fokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga mengapresiasi setiap perkembangan perilaku positif siswa. Hal ini bertujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang seimbang, yang mampu menguasai teknologi namun tetap menjunjung tinggi adab serta kearifan lokal yang religius.

Dialog dalam Titian Ilahi ini juga menyimpulkan bahwa pembentukan karakter adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ketidakharmonisan di salah satu pilar tersebut dapat menghambat pertumbuhan moral anak secara optimal. “Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menciptakan ekosistem pendukung yang sehat bagi tumbuh kembang generasi muda agar mereka siap menghadapi persaingan global tanpa kehilangan identitas spiritualnya,” jelasnya.

Di akhir dialog, Prof. Rahmi Damis memberikan sebuah pesan kunci bagi para pendengar RRI Makassar dan para orang tua dalam mendidik anak. Beliau mengingatkan bahwa investasi terbaik bagi masa depan bukanlah sekadar materi, melainkan pembentukan akhlakul karimah. "Mari kita sebagai orang tua mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas otaknya saja, tapi juga bersih hatinya. Mengapa? karena karakter adalah jangkar yang akan membuat mereka tetap tegak berdiri di tengah badai kehidupan yang kian kompleks,kita tidak hanya berdoa saja namun harus dengan ikhtiar yang kuat juga dengan tantangan jaman yang semakin berat ke depannya," pungkas Prof. Rahmi Damis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....